Poin Penting
- Bank Jateng mencatat laba bersih Rp1,42 triliun pada 2025, tumbuh 11,81 persen yoy, ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih.
- Kredit turun tipis 0,30 persen, sementara DPK tumbuh 8,87 persen sehingga LDR turun ke 78,80 persen dengan CAR kuat di 23,69 persen.
- Total aset menembus Rp100,07 triliun atau naik 6,01 persen, meski kualitas aset sedikit tertekan dengan NPL net 0,35 persen.
Jakarta – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) mengantongi laba bersih sebesar Rp1,42 triliun pada 2025. Raihan itu mengalami kenaikan 11,81 persen year on year (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,27 triliun.
Kenaikan laba salah satunya disokong pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang naik 5,86 persen, dari Rp4,60 triliun menjadi Rp4,87 triliun. Peningkatan pendapatan bunga bersih terjaga meski beban bunga tercatat naik 7,81 persen, atau menjadi Rp2,76 triliun. Di lain sisi, pendapatan bunga bisa dipacu tumbuh 6,71 persen dari Rp7,15 triliun menjadi Rp7,63 triliun
Sepanjang 2025, Bank Jateng menyalurkan kredit sebesar Rp59,54 triliun, atau mengalami koreksi tipis 0,30 persen ketimbang Rp59,72 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara, pembiayaan syariah tercatat tumbuh 9,62 persen, dari Rp4,26 triliun menjadi Rp4,67 triliun.
Baca juga: Bank Jateng Gandeng 40 Pengembang Dukung Program 3 Juta Rumah Prabowo
Kinerja kredit yang cukup menantang itu juga terefleksi dari kualitas aset yang sedikit menurun. Rasio kredit bermasalah (NPL) nett tercatat di level 0,35 persen. Sangat rendah. Tapi ada kenaikan tipis dibandingkan 0,11 persen pada tahun sebelumnya.
Adapun dari sisi penghimpunan dana masyarakat, Bank Jateng membukukan pertumbuhan 8,87 persen, dari Rp73,97 triliun menjadi Rp80,53 triliun. Rinciannya, giro melonjak 21,72 persen menjadi Rp10,59 triliun.
Lalu tabungan juga naik 3,00 persen dari Rp27,34 triliun menjadi Rp28,6 triliun. Sedangkan deposito tercatat meningkat 10,15 persen, atau menjadi Rp41,78 triliun.
Baca juga: Begini Strategi Bank Jateng Genjot Kredit Kendaraan Bermotor
DPK yang tumbuh lebih kencang dibandingkan kredit membuat loan to deposit ratio (LDR) bank ini berada di level 78,80 persen, berbanding 85,32 persen pada tahun sebelumnya.
Likuiditas yang masih longgar ditambah permodalan bank ini terbilang kokoh, dengan rasio kecukupan modal (CAR) di level 23,69 persen, membuat Bank Jateng sebenarnya masih mempunyai tenaga sangat besar untuk memacu mesin bisnisnya lebih kencang.
Tapi tantangan memacu kredit di tengah melemahnya demand tidaklah mudah. Ekspansi harus tetap dilakukan secara prudent, dengan mitigasi risiko ketat agar kualitas aset tidak menurun.
Baca juga: Bank Jateng Rombak Direksi, Bambang Widiyatmoko Jadi Dirut
Bank daerah terbesar ketiga yang baru mengalami transisi kepemimpinan dari Irianto Haryo Saputro ke Bambang Widyatmoko sebagai direktur utama ini tercatat memiliki aset Rp100,07 triliun pada akhir 2025. Total asetnya mengalami kenaikan 6,01 persen dibandingkan Rp94,40 triliun di akhir 2024. (*) Ari Astriawan










