Konflik AS-Israel vs Iran Picu Gejolak di Pasar Minyak, Ini Langkah Antisipasi Pemerintah

Konflik AS-Israel vs Iran Picu Gejolak di Pasar Minyak, Ini Langkah Antisipasi Pemerintah

Poin Penting

  • Airlangga menyebut konflik AS-Israel-Iran berpotensi mengganggu suplai minyak global, terutama melalui Selat Hormuz dan Laut Merah, dengan harga Brent sempat menyentuh USD82 per barel.
  • Pemerintah menyiapkan diversifikasi impor minyak dari luar Timur Tengah, termasuk melalui MoU Pertamina dengan Chevron dan ExxonMobil.
  • Konflik juga berisiko menekan sektor transportasi, logistik, pariwisata, serta berpotensi memengaruhi kinerja ekspor Indonesia tergantung durasi perang.

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran berpotensi mengganggu rantai pasok minyak dunia. Hal ini tecermin dari harga minyak mentah brent yang sempat menyentuh level USD82 per barel. 

Airlangga menjelaskan konflik tersebut berpotensi menghambat jalur distribusi minyak global, terutama di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama pengiriman minyak global. Selain itu, gangguan juga berpotensi meluas ke jalur pelayaran di laut merah (red sea).

“Ya pertama tentu kalau Iran udah pasti yang terganggu adalah supply minyak. Dan supply minyak itu karena Selat Hormuz kan terganggu, belum juga red sea. Jadi kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlaku,” ujar Airlangga saat ditemui di Kantornya, Senin, 2 Maret 2026.

Baca juga: Saham-Saham Ini Berpotensi Cuan di Tengah Memanasnya Perang Iran-AS

Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi melalui diversifikasi sumber pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah.

Airlangga menyebut, PT Pertamina (Persero) telah menjalin sejumlah nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan energi asal AS, termasuk Chevron dan ExxonMobil.

“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan supply dari non middle east. Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain,” ungkap Airlangga.

“Ya tentu kita monitor mana yang tersedia (minyak mentah) dan mana yang bisa diimpor,” imbuhnya.

Dampak ke Logistik, Pariwisata, dan Ekspor

Selain sektor energi, Airlangga menilai konflik juga akan berdampak pada industri transportasi dan logistik, serta sektor pariwisata,

“Yang kedua transportasi logistik. Dan yang ketiga tentunya kita melihat tourism akan sangat terganggu,” tambahnya.

Baca juga: Empat Luka Ekonomi dari Perang Iran-AS dan Israel

Namun, Airlangga menegaskan, pemerintah akan terus memantau perkembangan konflik dan dampaknya terhadap kinerja ekspor nasional.

“Ya kalau negara tergantung juga berapa lama. Balik lagi kita monitor aja bahwa perang ini lama atau perang 12 hari atau perang berapa jauh,” tandasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62