Analis Beberkan Dampak Perang Iran-AS ke Pasar Modal RI

Analis Beberkan Dampak Perang Iran-AS ke Pasar Modal RI

Poin Penting

  • Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi menguji level 7.800–8.000 akibat sentimen negatif perang Iran-AS dan kenaikan harga energi.
  • Risiko utama bagi pasar modal RI adalah capital outflow dan inflasi impor jika harga minyak bertahan tinggi.
  • Investor disarankan selektif: agresif bisa manfaatkan sektor komoditas, sementara konservatif sebaiknya wait and see.

Jakarta – Phintraco Sekuritas Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara teknikal pada pekan ini berpeluang menguji level 7.800-8.000 di tengah ketidakpastian politik yang kembali memanas.

“Dampak perang Amerika Serikat (AS)-Iran diperkirakan akan menjadi sentimen negatif akibat meningkatnya ketidakpastian global, yang dipengaruhi oleh seberapa lama dan meluasnya perang akan berlangsung,” kata Manajemen Phintraco dalam risetnya di Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Selain itu, dampak lain dari adanya perang AS-Iran tersebut dapat berpengaruh pada harga energi yang berpotensi naik dan investor global yang cenderung mengurangi exposure terhadap aset yang berisiko.

Baca juga: IHSG Dibuka Ambles Hampir 2 Persen ke Posisi 8.073

Namun, Manajemen Phintraco menyebut, IHSG berpeluang mengalami rebound jika sentimen global mereda dan didukung data perekonomian domestik yang solid.

Sentimen Domestik

Dari sentimen domestik dijadwalkan akan dirilis sejumlah data indikator ekonomi, yaitu S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan Januari 2026, dan inflasi Februari 2026 pada Senin (2/3) dan cadangan devisa Februari Jumat (6/3). 

Sementara  itu penurunan tarif dalam kesepakatan dagang dengan AS dari 19 persen menjadi 15 persen berpotensi menjadi faktor positif terhadap sektor berbasis ekspor.

Adapun, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyampaikan akibat dari perang tersebut ada dua potensi tekanan, salah satunya adalah potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market

“Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, beban biaya produksi meningkat dan margin emiten bisa tertekan,” ujar Hendra dalam kesempatan terpisah.

Baca juga: Harga Minyak Naik Imbas Perang Iran, Ini Wanti-Wanti Jusuf Kalla

Oleh karena itu, IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di 8.133. Jika level tersebut jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya. Sementara resistance terdekat berada di 8.300. 

Strategi Investor di Tengah Gejolak

Hendra mengimbau, bagi investor ritel, sikap terbaik adalah disiplin dan selektif. Jika memiliki profil agresif, momentum di sektor komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko ketat. 

Namun bagi yang konservatif, strategi wait and see tetap relevan sambil memantau perkembangan konflik dan arus dana asing. 

Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62