Harga Minyak Terancam Melonjak Imbas AS dan Israel Serang Iran

Harga Minyak Terancam Melonjak Imbas AS dan Israel Serang Iran

Poin Penting

  • Konflik AS–Israel vs Iran ancam 20 persen pasokan minyak global dan dorong harga naik
  • Risiko di Selat Hormuz picu penundaan pengiriman dan lonjakan tarif tanker
  • Pasokan global masih cukup, namun volatilitas energi berpotensi meningkat tajam.

Jakarta – Pasar energi global menghadapi salah satu guncangan terbesar dalam beberapa dekade setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran memicu eskalasi konflik di Timur Tengah, Sabtu (28/2

Situasi ini berpotensi mengganggu pasokan minyak dari kawasan yang menyumbang sekitar 20 persen suplai minyak dunia, sekaligus mendorong lonjakan harga energi global.

Mengutip Reuters, 1 Maret 2026, Ketidakpastian konflik langsung memicu kekhawatiran pasar. Harga minyak mentah Brent sebelumnya telah naik ke kisaran USD70 per barel, level tertinggi sejak Agustus 2025, seiring meningkatnya risiko konfrontasi militer.

Baca juga: Trump Deklarasi Perang Besar di Iran, Ini Potensi Dampaknya ke Ekonomi RI

Tanpa resolusi cepat, harga minyak diperkirakan akan melonjak tajam ketika perdagangan dibuka, didorong oleh ancaman gangguan pasokan dan jalur distribusi energi utama dunia.

Serangan militer AS dan Israel dilaporkan menargetkan pimpinan Iran, sementara Teheran merespons dengan serangan rudal ke sejumlah wilayah Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.

Titik Kritis Selat Hormuz

Meski belum ada konfirmasi kerusakan langsung pada infrastruktur minyak dan gas, eskalasi konflik dinilai akan meningkatkan risiko gangguan pada jalur ekspor energi strategis, khususnya Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi titik kritis karena menangani hampir 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar seperlima pasokan minyak global.

Ketegangan di wilayah ini telah memicu kehati-hatian pelaku industri, dengan sejumlah perusahaan minyak dan rumah dagang dilaporkan menunda pengiriman minyak melalui jalur tersebut.

Selain itu, tarif pengangkutan tanker minyak melonjak tajam, mencerminkan tingginya risiko operasional dan terbatasnya kapal yang bersedia beroperasi di kawasan konflik.

Dampak konflik ini berpotensi meluas ke seluruh rantai pasok energi global. Produsen minyak, trader, dan operator kapal mulai menyesuaikan strategi distribusi, sementara pasar bersiap menghadapi kemungkinan gangguan yang lebih besar apabila konflik berlanjut atau meluas ke fasilitas produksi dan terminal ekspor energi.

Di sisi lain, pasar minyak global saat ini masih memiliki bantalan pasokan dari peningkatan produksi di AS, Brasil, Kanada, serta negara produsen lainnya.

Baca juga: Perjanjian Dagang RI-AS: Era Kecemasan Sistem Pembayaran dari “Ayat-ayat Setan”

Arab Saudi juga meningkatkan ekspor minyaknya hingga lebih dari 7 juta barel per hari, level tertinggi sejak April 2023, sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan global.

Meski demikian, risiko gangguan distribusi dari Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang dapat memicu volatilitas harga energi dalam waktu dekat.

Skala dan durasi konflik akan menjadi penentu utama apakah gangguan ini hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi krisis energi global yang lebih besar. (*)

Related Posts

News Update

Netizen +62