Poin Penting
- AXA Mandiri menjaga stabilitas permodalan melalui pengawasan ketat terhadap rasio solvabilitas (Risk Based Capital/RBC) dan likuiditas untuk menjamin keamanan dana nasabah.
- Menyebarkan portofolio ke berbagai instrumen (pasar uang, obligasi, dan saham) guna meminimalkan risiko konsentrasi dan meredam dampak volatilitas pasar.
- Menyelaraskan durasi aset dengan profil liabilitas jangka panjang untuk memastikan kesiapan perusahaan dalam memenuhi klaim di masa depan.
Jakarta – Di tengah volatilitas pasar yang masih membayangi tahun ini, AXA Mandiri memastikan struktur investasi dan solvabilitas tetap berada dalam koridor aman.
Presiden Direktur AXA Mandiri, Handojo G. Kusuma menyampaikan bahwa pengelolaan risiko dilakukan secara berlapis, dengan pengawasan ketat terhadap rasio solvabilitas (risk based capital/RBC) serta likuiditas.
Menurutnya, stabilitas permodalan menjadi fondasi utama untuk menjaga kepercayaan nasabah di tengah dinamika pasar.
“Kami menerapkan manajemen risiko yang berlapis untuk menjaga tingkat solvabilitas dan likuiditas perusahaan. Strategi utama kami adalah diversifikasi aset yang luas dan penilaian risiko secara rutin terhadap portofolio kewajiban,” ujar Handojo kepada Infobanknews baru-baru ini.
Diversifikasi lintas instrumen,mulai dari pasar uang, obligasi, hingga saham, diposisikan sebagai bantalan utama dalam meredam tekanan pasar.
Dengan komposisi aset yang tersebar, perusahaan berupaya meminimalkan risiko konsentrasi yang dapat berdampak signifikan terhadap nilai portofolio maupun kecukupan modal.
Baca juga: Premi AXA Mandiri Sentuh Rp10 Triliun di 2025, Unitlink Jadi Tulang Punggung
Di luar diversifikasi, kunci strategi investasi AXA Mandiri terletak pada disiplin Asset-Liability Matching (ALM). Dalam industri asuransi jiwa yang memiliki kewajiban jangka panjang, kesesuaian antara durasi aset dan liabilitas menjadi faktor fundamental.
Ketidaktepatan dalam pengelolaan durasi dapat berdampak langsung pada kemampuan perusahaan memenuhi klaim di masa depan.
Handojo menegaskan bahwa ALM bukan sekadar pendekatan teknis, melainkan pilar utama dalam kebijakan investasi perusahaan. Untuk produk tradisional, alokasi aset difokuskan pada instrumen jangka panjang yang relatif stabil guna memastikan kepastian pembayaran manfaat.
Sementara pada produk unitlink, komposisi investasi mengikuti fund pilihan nasabah, namun tetap berada dalam kerangka pengelolaan risiko yang ketat.
Baca juga: Pendapatan Premi Asuransi Umum Tumbuh 4,8 Persen Jadi Rp112,81 Miliar pada 2025
“ALM merupakan pilar utama dalam strategi investasi kami. Kami memastikan durasi aset yang kami miliki selaras dengan profil liabilitas perusahaan,” jelasnya.
Perusahaan juga membuka kemungkinan melakukan rebalancing portofolio jika volatilitas pasar saham berlanjut. Instrumen yang lebih defensif seperti obligasi dan pasar uang dapat diperkuat untuk menjaga stabilitas nilai dan melindungi kepentingan nasabah.
“Jika volatilitas pasar saham terus berlanjut, kami tentu akan memprioritaskan instrumen yang lebih defensif untuk memberikan perlindungan nilai bagi nasabah,” imbuh Handojo. (*) Alfi Salima Puteri










