Bos Amar Bank: Lawan Serangan Siber Seperti “Tom and Jerry”

Bos Amar Bank: Lawan Serangan Siber Seperti “Tom and Jerry”

Poin Penting

  • Ancaman siber terus meningkat dan menyasar seluruh jenis bank, termasuk bank digital.
  • Amar Bank memperkuat keamanan melalui teknologi, proses, dan SDM, disertai pemantauan 24 jam.
  • Investasi keamanan siber diprioritaskan sebagai bagian dari manajemen risiko, tanpa batasan anggaran.

Jakarta –  Industri perbankan tak pernah luput dari risiko serangan siber. Ancaman ini tak hanya menyasar bank big caps, tetapi juga bank daerah hingga bank digital yang mengandalkan layanan daring sebagai tulang punggung bisnisnya.

Tak terkecuali, bagi PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) atau Amar Bank. Bank digital yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Tolaram Group ini, menegaskan komitmennya dalam memperkuat ‘benteng’ pertahanan siber.

Direktur Utama PT Bank Amar Indonesia Tbk Vishal Tulsian, mengatakan keamanan siber bersifat dinamis dan terus berkembang, sehingga perusahaan harus selalu beradaptasi.

Ia mengibaratkan keamanan siber seperti permainan “Tom and Jerry” yang tak pernah berhenti.

“Keamanan siber seperti kucing dan tikus. Tidak pernah ada perusahaan, bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia, yang bisa merasa sepenuhnya aman. Ancaman selalu berkembang,” ujar Vishal, saat berbincang dengan Infobanknews, di Jakarta, Kamis, 27 Februari 2026.

Strategi Tangkal Serangan Siber

Menurut Vishal, strategi pertahanan siber Amar Bank bertumpu pada tiga pilar utama, yakni teknologi (alat IT), proses, dan sumber daya manusia (SDM).

Baca juga: Dana Nasabah Dibobol, Bank Jambi Pastikan Ganti Kerugian Nasabah

Ia menekankan bahwa keamanan siber bukan sekadar soal penggunaan perangkat teknologi mutakhir. 

“Meski Anda punya alat terbaik, tapi kalau orang-orangnya tidak terlatih, itu tetap menjadi titik lemah,” jelasnya

Amar Bank, lanjut dia, secara rutin memperbarui perangkat keamanan dengan teknologi terkini, menerapkan proses yang mengacu pada praktik terbaik global, serta menggelar pelatihan berkala bagi karyawan. Bank ini juga mengoperasikan pengawasan sistem selama 24 jam.

“Kita memiliki alat-alat yang canggih dari California, karena banyak perusahaan terbaik di Silicon Valley. Kami mengambil alat-alat dari mereka. Kami memanggil mereka untuk melakukan training dan juga pelatihan selama 24 jam,” bebernya.

Terkait anggaran, Vishal menyebut perseroan tidak membatasi alokasi dana untuk keamanan siber. 

“Apa pun budget yang diperlukan untuk keamanan siber, kami alokasikan untuk alat terbaik, proses terbaik, dan pelatihan terbaik,” ujarnya.

Ia menambahkan, investasi keamanan siber bukan dipandang sebagai biaya, melainkan bagian dari manajemen risiko. 

“Keamanan siber bukan semata tentang anggaran, ini adalah pengelolaan risiko,” tegasnya. 

Serangan Siber Perbankan

Serangan siber kini menjadi ancaman nyata seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Dalam periode Januari 2020 hingga Mei 2025, Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN) mencatat 6.728.381.246 anomali trafik internet.

Sebanyak 83,34 persen dari anomali tersebut berupa malware atau perangkat lunak berbahaya. Hingga Mei 2025, jumlah anomali yang terdeteksi telah menyentuh 2,07 miliar, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, sektor keuangan  menempati posisi ke-empat bidikan para hacker. 

Baca juga: Zentara Dorong Edukasi Publik Hadapi Ancaman Siber Berbasis AI

Teranyar, aksi serangan siber diduga menimpa PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi atau Bank Jambi. Di mana, sejumlah nasabah mengaku kehilangan saldo. 

S, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Jambi, mengaku kehilangan saldo sebesar Rp24.500.000. Ia mengetahui kejadian tersebut saat hendak melakukan transfer pada Minggu (22/2/2026) sekitar pukul 06.30 WIB. 

Saat mengecek mutasi rekening, ia menemukan adanya transaksi transfer senilai Rp24.500.000. S juga mengaku belum mengetahui kondisi sisa saldo di rekeningnya.

Sebagai langkah mitigasi dan pengamanan data, Bank Jambi untuk sementara langsung membekukan akses digital untuk mempermudah proses investigasi. (*)

Editor: Galih Pratama

Netizen +62