Poin Penting
- APBN awal 2026 defisit Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap PDB, dinilai masih terkendali dan sesuai koridor desain fiskal 2026
- Pendapatan negara Rp172,7 triliun (5,5 persen pagu), tumbuh 9,5 persen yoy, ditopang penerimaan pajak yang kuat dan PNBP yang mulai pulih
- Belanja negara Rp227,3 triliun (5,9 persen pagu), melonjak 25,7 persen yoy untuk mendukung program prioritas dan menjaga daya beli.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Januari 2026 alami defisit sebesar Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Posisi defisit APBN tercatat mencapai Rp54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB,” kata Purbaya dalam APBN KiTa, Senin, 23 Februari 2026.
Purbaya mengklaim, defisit APBN Januari 2026 tersebut masih terkendali karena berada dalam koridor desain APBN 2026.
Baca juga: Purbaya Beberkan Alasan Defisit APBN 2025 Nyaris 3 Persen dari PDB
Adapun keseimbangan primer juga mencatatkan defisit Rp4,2 triliun atau 4,7 persen terhadap APBN. Kata Purbaya, hal ini menunjukkan posisi fiskal yang terkelola secara prudent.
Kemudian, pendapatan negara hingga akhir Januari 2026 mencapai Rp172,7 triliun atau setara 5,5 persen terhadap pagu APBN 2026 atau tumbuh 9,5 persen year on year (yoy).
Baca juga: Purbaya Nilai Utang Luar Negeri RI Masih Aman meski Meningkat
“Kinerja ini ditopang oleh penerimaan perpajakan yang tetap kuat serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mulai menunjukkan pemulihan di luar komponen non berulang tahun lalu,” ungkapnya.
Di sisi lain, realisasi belanja negara per Januari 2026 sebesar Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari pagu APBN 2026, tumbuh 25,7 persen yoy.
Hal ini menunjukkan akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun, khususnya untuk mendukung program prioritas pemerintah, menjaga daya beli, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2026. (*)
Editor: Galih Pratama










