Poin Penting
- Prabowo klaim Indonesia lebih dulu terapkan efisiensi anggaran dibanding AS, dengan penghematan mencapai USD18 miliar dalam tiga bulan.
- Penghematan berasal dari pemangkasan proyek tak produktif, seremoni, dan perjalanan dinas luar negeri yang dinilai tidak mendesak.
- Dana efisiensi dialihkan ke program prioritas, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG), yang telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat.
Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah Indonesia telah dijalankan lebih dulu sebelum langkah serupa diperkenalkan di Amerika Serikat (AS) melalui Department of Government Efficiency (DOGE).
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam acara Business Summit di U.S. Chamber of Commerce, Washington DC, Rabu (18/2) sore waktu setempat.
Mantan Menteri Pertahanan ini menyebut, kebijakan efisiensi berhasil menghemat 18 miliar dolar AS dalam tiga bulan. Penghematan berasal dari pemangkasan proyek tidak produktif, inefisiensi belanja, pembatalan seremoni, hingga perjalanan dinas luar negeri yang dinilai tidak mendesak.
“Mungkin mirip dengan yang diupayakan di Amerika Serikat melalui Department of Government Efficiency. Tapi saya memulainya beberapa bulan lebih awal,” kata Prabowo, dinukil Antara, Kamis, 19 Februari 2026.
Baca juga: Jelang Perundingan Ekonomi RI-AS, Prabowo Bahas 2 Hal Krusial di Hambalang
Prabowo menjelaskan, salah satu sumber pemborosan yang dipangkas adalah anggaran seremoni di kementerian dan pemerintah daerah, termasuk peringatan hari jadi.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat dilakukan secara sederhana tanpa membebani anggaran negara.
Selain itu, pemerintah juga mengurangi studi banding dan kunjungan luar negeri yang tidak berkorelasi langsung dengan kebutuhan pembangunan.
Ia menyebut, belanja perjalanan dinas luar negeri sebelumnya mencapai miliaran dollar AS setiap tahun.
Langkah efisiensi tersebut, kata dia, bukan sekadar penghematan, melainkan strategi untuk memastikan anggaran negara digunakan secara tepat sasaran.
Dialihkan ke Program MBG
Prabowo menegaskan, dana hasil efisiensi tidak diendapkan, melainkan direalokasikan untuk program prioritas yang berdampak langsung kepada masyarakat, salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tanpa langkah efisiensi yang ketat, ia menilai anggaran berpotensi terbuang dalam belanja tidak efektif atau bahkan praktik korupsi. Karena itu, realokasi anggaran menjadi instrumen penting untuk mempercepat pengentasan kemiskinan dan penanganan stunting.
Baca juga: Prabowo Targetkan RoA Danantara 7 Persen, Begini Respons Bos Himbara
Pemerintah mencatat lebih dari 60 juta penerima manfaat telah memperoleh akses makan bergizi gratis, yang mencakup anak sekolah, ibu hamil dan menyusui, serta lanjut usia.
Saat ini, terdapat sekitar 23.000 dapur MBG yang beroperasi di berbagai desa. Setiap dapur mempekerjakan rata-rata 50 orang, mayoritas ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap.
Program tersebut juga menciptakan efek berganda di sektor pertanian dan peternakan. Setiap dapur membutuhkan pasokan telur, ayam, sayuran, dan bahan pangan lainnya, sehingga memberi kepastian pasar bagi petani dan peternak lokal.
“Dana yang berhasil saya selamatkan itulah, yang saya alokasikan ulang untuk program-program prioritas. Saya dituduh boros dan lain-lain. Tidak, ini adalah realokasi sumber daya,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra










