Poin Penting
- Menurut Purbaya, defisit APBN 2025 melebar ke 2,92 persen PDB, dari target 2,53 persen, sebagai langkah kontrasiklikal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
- Fiskal tetap dijaga prudent, dengan defisit di bawah batas 3 persen PDB dan rasio utang terkendali
- Dampaknya mulai terlihat, pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,11 persen (yoy) dan diproyeksi 5,5–6 persen pada kuartal I 2026.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan alasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mengalami defisit yang nyaris 3 persen atau tepatnya 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya mengatakan, APBN berperan sebagai katalis dan instrumen kontrasiklikal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui program unggulan, perlindungan sosial yang tepat sasaran, dukungan dunia usaha, optimalisasi penerimaan, dan disiplin fiskal.
Menurut Purbaya, hal tersebut yang membuatnya sedikit mengorbankan fiskal ke defisit 2,92 persen dari target sebelumnya yang hanya sebesar 2,53 persen di 2025.
Baca juga: Purbaya Siapkan Rp55 Triliun untuk THR ASN, TNI, dan Polri
“Jadi kita sedikit mengorbankan fiskal dalam sisi defisit dari 2,5 persen sekian ke arah 2,9 persen. Itu adalah program kontrasiklikal yang kita kerjakan untuk membalik ekonomi dari yang turun, sekarang jadi mulai naik,” ujar Purbaya dalam Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat, 13 Februari 2026.
Meski demikian, Purbaya menegaskan defisit tersebut masih berada dalam koridor yang mencerminkan prinsip kehati-hatian fiskal. Di mana defisit masih berada di bawah 3 persen.
“Tapi itu kita lakukan tanpa mengorbankan kehatian-kehatian fiskal. Defisit masih kita jaga di 3 persen dari PDB. Dan utangnya juga masih terkendali. Jadi kita juga berhasil membalik arah ekonomi dengan fiskal yang tetap terjaga,” jelasnya.
Baca juga: Soal Pembayaran Utang Whoosh Pakai APBN, Menkeu Purbaya: Masih Fifty-Fifty
Purbaya menilai, hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang kuat atau sebesar 5,11 persen secara tahunan (yoy). Ia memprediksi perekonomian tumbuh di rentang 5,5-6 persen di kuartal I 2026.
“Tapi ini angka yang luar biasa. Karena kalau ini terjadi, berarti kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” ujar Purbaya. (*)
Editor: Galih Pratama










