Poin Penting
- Pefindo pertahankan proyeksi penerbitan obligasi korporasi 2026 di kisaran Rp154 triliun–Rp196,86 triliun, meski outlook Indonesia diturunkan Moody’s dari stabil menjadi negatif
- Kondisi pasar dinilai masih kondusif, dengan cost of funds awal 2026 relatif lebih murah dibanding awal 2025 dan yield SBN tenor 10 tahun belum kembali ke level tinggi
- Outlook negatif Moody’s disebut lebih terkait risiko kebijakan fiskal, bukan pelemahan fundamental ekonomi, yang dinilai masih solid.
Jakarta – Perubahan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s tak serta-merta menggerus optimisme pasar surat utang domestik. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) justru tetap mempertahankan proyeksi penerbitan obligasi korporasi pada 2026 di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun.
Chief Economist Pefindo, Suhindarto menegaskan, hingga saat ini pihaknya belum merevisi proyeksi tersebut meskipun dinamika global dan domestik masih diwarnai ketidakpastian.
“Sejauh ini kami masih tetap berpegang pada proyeksi di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (11/02).
Baca juga: Tingkatkan Kinerja Keuangan, Pollux Hotels Group Terbitkan Obligasi Berkelanjutan
Ia mengakui kondisi awal tahun memang diwarnai tantangan. Namun, menurutnya, situasi tersebut bukan hal baru bagi pasar keuangan Indonesia.
“Kalau kita tarik lagi ke awal tahun 2025, sebenarnya kondisinya juga tidak terlalu jauh berbeda dengan saat ini. Ketidakpastian global, baik dari sisi kebijakan perdagangan Amerika Serikat maupun politik, waktu itu juga cukup tinggi,” jelasnya.
Dari sisi biaya dana pun, kondisi saat ini dinilai lebih kompetitif dibandingkan periode awal 2025. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun belum kembali ke level tinggi seperti yang sempat terjadi sebelumnya.
“Kalau dibandingkan, sebenarnya cost of funds di awal tahun ini masih relatif lebih murah dibandingkan awal tahun 2025,” katanya.
Baca juga: MAMI Ungkap Peluang dan Risiko Pasar Saham-Obligasi 2026
Terkait outlook negatif dari Moody’s, Suhindarto menilai hal itu lebih mencerminkan risiko kebijakan fiskal, bukan pelemahan fundamental ekonomi.
“Perubahan outlook itu disebabkan oleh risiko kebijakan yang bisa berdampak pada pengelolaan fiskal. Tapi ini masih sebatas risiko. Fundamental ekonomi Indonesia sendiri masih relatif baik,” tegasnya. (*) Alfi Salima Puteri










