Poin Penting
- Sektor healthcare (life sciences & medical offices) mendominasi okupansi aset properti Jakarta tiga tahun berturut-turut, naik dari 38% (2024) menjadi 48% (2025)
- Selain healthcare, sektor retirement living dan student living turut mencatat porsi signifikan, dengan tren student living meningkat dari 24% (2024) menjadi proyeksi 27% (2026).
- Aging population, pertumbuhan kelas menengah, dukungan pemerintah pascapandemi (produksi obat/vaksin dalam negeri), serta dorongan medical tourism.
Jakarta – Lembaga konsultan properti, CBRE Indonesia, baru saja merilis laporan terbaru mengenai update pasar properti di Jakarta.
Laporan yang membahas tentang perkembangan pasar properti Jakarta pada kuartal IV 2025 dan tren di 2026 ini menemukan temuan menarik. New economy seperti sektor healthcare, akomodasi siswa dan hunian bagi pensiunan (retirement living) tampak mendominasi tren okupansi properti di Jakarta pada 2025.
Tren ini pun diproyeksi berlanjut di 2026. Laporan CBRE Indonesia menunjukkan sektor terkait healthcare yakni life sciences dan medical offices mendominasi aset properti di Jakarta selama tiga tahun berturut-turut. Ini menjadikannya yang terbesar di antara sektor lainnya yang disurvei (healthcare, real estate debt, retirement living, student living, cold storage, social and economic infrastructure, dan self storage).
Di 2024, sektor healthcare mendominasi okupansi aset properti Jakarta sebesar 38 persen. Setahun kemudian, porsi ini meningkat menjadi sekitar 48 persen. Dan, diproyeksikan tetap akan memimpin porsi okupansi properti pada 2026 di level 37 persen.
Diikuti real estate debt 33 persen (2024), 32 persen (2025), dan proyeksi 26 persen (2026); retirement living/senior housing 32 persen (2024), 31 persen (2025), dan proyeksi 28 persen (2026); serta student living 24 persen (2024), 25 persen (2025), dan proyeksi 27 persen (2026).
Baca juga: Kredit Properti Tumbuh 13 Persen Jadi Rp1.597,7 Triliun di Desember 2025
Faktok Pendorong Okupansi Healthcare
CO Head Office Services Albert Dwiyanto menjelaskan setidaknya ada empat faktor yang mendorong okupansi sektor healthcare terhadap properti. Pertama adalah demografi. Demografi Indonesia yang menuju ke aging population (menua), menyebabkan layanan atas kesehatan akan terus meningkat.
“Jadi, yang umurnya mungkin sekitar 30-40 tahun itu semakin banyak dari populasi kita sekitar 270 juta. Untuk yang demografinya ini, aging population-nya cukup meningkat,” terang Albert dalam acara CBRE Indonesia Media Briefing di Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026.
Faktor kedua adalah pertumbuhan kelas menengah. Semakin banyaknya kelas menengah di Indonesia saat ini menjadikannya salah satu target market yang potensial bagi developer.
“Jadi, ini bisa dilihat sebagai suatu titik di mana kita bisa melihat bahwa middle class growth ini bisa menjadi tolak ukur untuk mengembangkan bisnis dari healthcare itu sendiri,” ucap Albert.
Selanjutnya, ada dorongan dari pemerintah untuk memperkuat sektor kesehatan, khususnya di era pasca pandemi. Dorongan dari pemerintah ini dilandasi kesadaran atas sulitnya mencari bahan baku untuk obat-obatan, seperti salah satunya vaksin saat pandemi.
Kondisi itu mendorong pemerintah untuk memusatkan bahan baku dan proses produksi di dalam negeri. Yang mana, hal ini membuat permintaan atas aset properti untuk uji lab dan produksi obat/vaksin turut meningkat.
“Misalnya di BSD, itu mereka juga punya special economic zone untuk health care,” sebutnya.
Keempat adalah medical tourism. Albert menjelaskan bahwa banyaknya orang Indonesia yang berkunjung ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia untuk berobat mendorong stakeholder terkait untuk menciptakan ekosistem kesehatan yang mumpuni di dalam negeri.
Baca juga: Properti RI Berpeluang Booming Lagi pada 2026, Apa Penyebabnya?
Lebih lanjut, ia menerangkan situasi itu serupa dengan apa yang terjadi di sektor pendidikan. Dimana, pada era tahun 2000 awal, banyak orang Indonesia yang pergi ke luar negeri untuk menempuh pendidikan.
Hal itu lalu memicu pemerintah negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina untuk mengandalkan sistem twinning program sebagai upaya menyerap kembali pelajar-pelajar domestik mereka ke dalam negeri.
“Makanya kalau misalnya kita lihat pasca tahun 2000, pemerintah juga mengundang investor, terutama di bidang pendidikan untuk berinovasi dan berinvestasi di Indonesia. Jadi, bisa lulus universitas terbaik yang ada di luar negeri, itu bisa di Indonesia,” ungkapnya.
“Jadi, ini sama di-adopt oleh healthcare. Daripada uangnya pergi ke Malaysia, Singapura, Thailand, lebih baik mereka berinvestasi di Indonesia,” tukas Albert. (*) Steven Widjaja










