Poin Penting
- Ketiga kalinya DANA ikut Davos, mendorong kolaborasi dan penguatan trust di tengah ketidakpastian global
- Isu utama meliputi AI, deeptech, ekonomi sirkular, hingga ketahanan pangan
- Ekosistem pembayaran digital Indonesia jadi rujukan negara berkembang dan daya tarik investasi.
Jakarta – Dompet digital DANA kembali berpartisipasi dalam forum global World Economic Forum (WEF) 2026 yang digelar di Davos, Januari lalu. Kehadiran ini menjadi kali ketiga bagi DANA untuk terlibat langsung dalam forum tahunan yang sejak 1971 mempertemukan para pemangku kepentingan lintas sektor dunia.
Tahun ini, WEF mengusung tema “A Spirit of Dialogue” yang menekankan pentingnya dialog, kolaborasi global, serta inovasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Dalam pertemuan WEF 2026, berbagai isu besar dunia mengemuka, mulai dari ketidakpastian geopolitik (geopolitical uncertainty), perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga tantangan lingkungan dan kesejahteraan global. Diskusi juga banyak menyoroti bagaimana dunia perlu membangun kembali kepercayaan (trust) di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, serta pentingnya kerja sama lintas negara dan sektor.
Baca juga: Dirut BRI Ungkap Peluang Akselerasi Bisnis Fintech Indonesia di WEF 2026
CEO & Co-Founder DANA, Vince Iswara, mengatakan bahwa suasana ketidakpastian justru mendorong rasa kebersamaan di tingkat global.
“Uncertainty ini bikin kita merasakan lebih kebersamaan. Banyak yang merasa bahwa kita harus membangun kolaborasi dan memperkuat trust, karena kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” ujarnya saat pertemuan dengan pimpinan media massa di Jakarta, Rabu (11/2).
Vince menambahkan, salah satu topik yang banyak dibahas di Davos adalah deeptech dan pemanfaatan AI yang semakin dalam. Diskusi tidak hanya berhenti pada efisiensi, tapi juga bagaimana teknologi bisa membantu membangun ekonomi yang lebih sirkular. Mulai dari pencarian model pabrik yang ramah lingkungan, pemanfaatan kembali limbah material, hingga inovasi untuk mengurangi waste melalui pendekatan circular economy.
Isu pangan juga menjadi perhatian serius. Secara global, harga makanan cenderung meningkat seiring bertambahnya populasi dunia. Di WEF 2026, para peserta membahas bagaimana teknologi dan kebijakan bisa mendorong sistem pangan yang lebih sehat, terjangkau, dan berkelanjutan.
Selain itu, penggunaan AI untuk meningkatkan produktivitas, potensi disrupsi pekerjaan di masa depan, serta dampak lingkungan dari aktivitas ekonomi turut menjadi bahasan utama.
Dari sisi kontribusi Indonesia, DANA menyoroti peran inklusi keuangan sebagai salah satu kekuatan nasional. Vince menyebutkan bahwa pengalaman Indonesia dalam membangun ekosistem pembayaran digital menjadi rujukan bagi banyak negara berkembang.
“Banyak negara belajar dari Indonesia. Bank sentral dari Mesir, Moldova, sampai Kenya belajar dengan tim kami, mulai dari pengolahan data yang lebih baik sampai stress test makro ekonomi untuk mencari solusi,” jelasnya.
Baca juga: Presiden Prabowo Paparkan Arah dan Program Danantara di WEF 2026
Selain berbagi pengalaman, DANA juga membawa pesan optimisme soal potensi Indonesia di mata global. Digitalisasi yang cepat, talent pool yang besar, serta bonus demografi dinilai menjadi kombinasi kuat untuk menarik investasi.
Menurut Vince, banyak pihak di WEF yang tertarik menjalin kerja sama dengan Indonesia karena melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang masih sangat besar.
Ke depan, DANA berharap partisipasinya di WEF tidak hanya membawa manfaat bagi perusahaan, tapi juga bagi perekonomian Indonesia dan global. Di tengah ketidakpastian, kolaborasi dan inklusivitas ekonomi dinilai sebagai kunci untuk menciptakan kemakmuran bersama (shared prosperity).
Sebagai dompet digital terkemuka di Indonesia, DANA terus mendorong transaksi non-tunai dan non-kartu, baik online maupun offline, sambil memperkuat ekosistem tekfin yang inklusif dan tepercaya. (*) Ari Nugroho










