Laba BCA Syariah Naik 15,36 Persen Jadi Rp212 Miliar pada 2025

Laba BCA Syariah Naik 15,36 Persen Jadi Rp212 Miliar pada 2025

Poin Penting

  • BCA Syariah mencetak laba bersih Rp212 miliar pada 2025, naik dari Rp183,7 miliar di 2024, ditopang pertumbuhan pembiayaan yang solid
  • Total pembiayaan mencapai Rp13,2 triliun (+23 persen yoy), didorong segmen komersial (+35 persen) dan pembiayaan emas yang melonjak hampir 4 kali lipat menjadi Rp677 miliar
  • NPF gross terjaga di 1,6 persen (di bawah batas 5 persen). DPK tumbuh 17,12 persen menjadi Rp15,43 triliun, mendorong total aset naik 15 persen menjadi Rp19,2 triliun.

Jakarta – PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah) mencatatkan kinerja solid pada 2025 dengan meraup laba bersih Rp212 miliar. Capaian laba tersebut tumbuh 15,36 persen secara year-on-year (yoy) dari tahun 2024 yang sebesar Rp183,7 miliar.

Presiden Direktur BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum mengungkapkan kenaikan laba BCA Syariah ditopang oleh penyaluran pembiayaan perseroan yang tumbuh 23 persen menjadi Rp13,2 triliun. Secara komposisi, pembiayaan BCA Syariah masih ditopang oleh pembiayaan di segmen komersial yang tumbuh 35 persen.

“Pembiayaan memang menjadi motor utama untuk perolehan laba kami. Pembiayaan tumbuh solid sehingga mendorong profitabilitas kami tetap tumbuh solid,” ungkap Yuli, dalam Media Update Kinerja BCA Syariah, di Wisma 2 BCA Syariah, Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.

Baca juga: BCA Syariah Permudah Akses Pembiayaan Rumah, Kendaraan dan Emas di BCA Expoversary 2026

Lebih rinci, pembiayaan konsumer mengalami pertumbuhan yang solid berkat produk emas. Pada 2025, penyaluran pembiayaan produk emas mencapai Rp677 miliar, atau lebih tinggi dari tahun 2024 yang berada di kisaran Rp200 miliar.

“Untuk produk emas sendiri tahun 2024 kami salurkan di kisaran Rp200 miliar. Kalau tahun lalu meningkat hampir empat kali lipat, di angka Rp677 miliar. Jadi secara pembiayaan, CAGR kami di kisaran 26 persen,” kata Pranata, Direktur BCA Syariah di kesempatan yang sama.

Di tengah agresivitas penyaluran pembiayaan, BCA Syariah juga mampu menjaga kualitas pembiayaan. Ini tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing/NPF gross BCA Syariah yang berada di level 1,6 persen dan NPF net 0,2 persen pada 2025. Angka ini jauh di bawah ambang batas regulator yang sebesar 5 persen.

Sementara dari sisi funding, lanjut Pranata, BCA Syariah berhasil mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp15,43 triliun pada Desember 2025 atau tumbuh 17,12 persen dari Rp13,18 triliun pada Desember 2024.

Baca juga: BCA Syariah Luncurkan BSya Digital Membership Card Ivan Gunawan Prive dan Mandjha

Secara rinci, perolehan DPK didominasi oleh deposito sebesar Rp9,17 triliun atau tumbuh 11,9 persen, dan CASA (tabungan dan giro) Rp6,26 triliun atau meningkat 25,7 persen.

Menurut Pranata, perolehan DPK tersebut turut mendongkrak perolehan aset BCA Syariah Rp19,2 triliun atau tumbuh 15 persen secara tahunan.

“Pertumbuhan paling besar DPK adalah produk giro yang tumbuh di kisaran 43 persen. Perolehan DPK ini, paling berkontribusi meningkatkan aset,” tutupnya. (*) Ayu Utami.

Related Posts

News Update

Netizen +62