Poin Penting
- EasyCash, AFTECH, dan IARFC Indonesia meluncurkan Modul Bijak Keuangan (MOJANG) untuk meningkatkan literasi keuangan
- Kesenjangan literasi dan inklusi masih lebar, dengan inklusi keuangan 80,51 persen dan literasi 65,43 persen (SNLIK 2025)
- Kolaborasi industri, asosiasi, dan regulator dinilai krusial, mengingat indeks literasi pelajar usia 15–17 tahun baru 51,48 persen.
Jakarta – PT Indonesia Fintopia Technology (EasyCash) bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan International Association of Registered Financial Consultant (IARFC) Indonesia meluncurkan Modul Bijak Keuangan (MOJANG).
Modul ini merupakan bentuk upaya meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda. Program ini ditujukan terutama bagi kelompok gen Z dan milenial yang semakin aktif menggunakan layanan keuangan digital.
Aidil Akbar Madjid, President & Chairman IARFC Indonesia, mengatakan perkembangan layanan keuangan digital di Indonesia berlangsung sangat cepat, termasuk akses pinjaman digital yang kini dapat dilakukan hanya melalui ponsel. Namun, kemudahan tersebut belum sepenuhnya diimbangi pemahaman masyarakat.
Baca juga: OJK Rilis Daftar Pindar Legal Terbaru, Simak Sebelum Ajukan Pinjaman
Ia menyebut, masih banyak masyarakat menggunakan produk keuangan tanpa memahami cara kerja maupun risikonya. Kondisi tersebut kerap menimbulkan salah kelola keuangan, kesalahpahaman terhadap pinjaman digital hingga maraknya pinjaman ilegal (pinjol).
“Kesalahpahaman soal ini akan sangat berbahaya jika terjadi pada generasi muda (gen Z) yang sangat-sangat di-train dalam pengelolaan teknologi. Dan jumlahnya cukup besar, yaitu 28 persen dari populasi di Indonesia,” ujarnya pada Selasa, 10 Februari 2026.
Data Survei SNLIK 2025
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan tingkat inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen, sementara literasi keuangan baru sekitar 65,43 persen. Artinya, sebagian masyarakat sudah memakai produk keuangan sebelum memahami fungsinya.
Menanggapi kondisi tersebut, Nucky Poedjiardjo, Direktur Utama EasyCash menyebut bahwa kesenjangan literasi dan inklusi menjadi tantangan serius, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi namun masih berada pada tahap awal pengelolaan keuangan pribadi.
Menurutnya, literasi keuangan sejak dini penting agar masyarakat memahami hak, kewajiban, serta risiko penggunaan layanan keuangan digital. Ia menegaskan edukasi merupakan bagian dari perlindungan konsumen dan keberlanjutan industri fintech.
“Kami percaya, bahwa literasi keuangan tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara regulator, asosiasi, industri, institusi pendidikan, dan masyarakat, agar edukasi keuangan dapat menjangkau lebih luas dan memberikan dampak yang nyata,” ungkapnya.
Setali dua uang, Firlie Ganinduto, Sekretaris Jenderal AFTECH, menambahkan generasi muda merupakan pengguna dominan layanan digital. Meski memiliki tingkat adopsi teknologi tinggi, kelompok ini juga rentan terhadap perilaku konsumtif, kesalahpahaman kredit, dan risiko pinjaman digital.
“Ke depan tantangan literasi keuangan akan semakin kompleks seiring dengan berkembangnya produk keuangan digital, model bisnis berbasis teknologi, serta ekosistem ekonomi digital yang semakin deteriorasi Oleh karena itu, edukasi keuangan harus terus beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi muda,” tegasnya.
Dari sisi regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai edukasi keuangan penting untuk membangun kesejahteraan finansial masyarakat. Hal ini disampaikan Naomi Triyuliani, Kepala Divisi Perencanaan, Pengembangan, Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan OJK.
Baca juga: UOB Indonesia dan Ruangguru Gelar Literasi Keuangan dan Coding
OJK mencatat indeks literasi pelajar usia 15–17 tahun hanya sekitar 51,48 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan tingkat nasional. Untuk itu, sepanjang 2025, OJK telah menyelenggarakan 11.931 program edukasi keuangan yang diikuti sekitar 1,6 juta pelajar.
Naomi berharap, kolaborasi industri, asosiasi, serta regulator, khususnya dalam peluncuran MOJANG dapat memperluas jangkauan edukasi keuangan di Indonesia.
“Kami berharap bahwa kegiatan edukasi hari ini atau peluncuran modul pijak keuangan ini menjadi langkah awal bagi kita semua untuk terus meningkatkan pengetahuan dan juga keterampilan dalam edukasi keuangan,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso










