Bank KBMI 3 di Antara Goliath dan David, Jalan Tengah yang Paling Diuji

Bank KBMI 3 di Antara Goliath dan David, Jalan Tengah yang Paling Diuji

Poin Penting

  • Bank KBMI 3 berada di tengah tekanan bank raksasa KBMI 4 dan bank kecil KBMI 1–2 yang agresif, namun tetap menjadi penantang paling rasional
  • Hingga Oktober 2025, KBMI 3 menguasai sekitar 27 persen pangsa aset, kredit, dan DPK nasional, dengan pertumbuhan kredit 15,11 persen, DPK 24,02 persen, dan aset 18,36 persen
  • CASA yang belum sekuat KBMI 4, penurunan LDR, serta melemahnya permintaan kredit menekan margin dan laba.

Jakarta – Kelompok Bank KBMI 3 sekarang ini bisa dibilang berada di posisi paling serba salah dalam peta perbankan nasional. Ibarat cerita klasik, mereka berdiri di antara Goliath dan David. Di satu sisi ada bank-bank raksasa KBMI 4 yang aset dan dominasinya nyaris tak tertandingi. Di sisi lain, ada bank-bank KBMI 2 dan KBMI 1 yang lebih lincah, agresif, dan berani main harga. Di tengah tekanan dua arah itu, Bank KBMI 3 jadi arena utama adu strategi dan ketahanan bisnis.

Data Biro Riset Infobank (birI) per Oktober 2025 menunjukkan betapa beratnya tekanan itu. Bank-bank KBMI 4 masih menguasai pangsa aset dan kredit nasional, masing-masing 50,66 persen dan 53,03 persen. Sementara KBMI 2, meski mulai melambat, sebelumnya sempat tumbuh agresif dan terus menekan pasar. Dalam struktur seperti ini, KBMI 3 mau tak mau harus pintar cari celah agar tetap relevan.

Saat ini, KBMI 3 dihuni oleh 15 bank dengan latar belakang yang sangat beragam. Ada bank pelat merah seperti BTN, BSI, dan Bank BJB. Dari swasta asing, ada Bank CIMB Niaga milik Malaysia dan Bank UOB Indonesia dari Singapura, ditambah bank-bank berdarah Jepang dan lainnya.

Baca juga: Bank KBMI 2 di Jalan Terjal, tapi Masih Bertahan

Ada juga bank milik konglomerasi lokal seperti Bank Mega di bawah CT Corp dan PaninBank dari Grup Panin. Komposisi ini bikin KBMI 3 terlihat solid dari sisi modal dan jejaring.

Secara kinerja, jujur saja, KBMI 3 tak bisa dipandang sebelah mata. Pertumbuhan kredit, DPK, aset, hingga laba kelompok ini masih berada di atas rata-rata industri perbankan nasional. Tanpa dominasi ala KBMI 4, Bank KBMI 3 justru berperan sebagai mesin pertumbuhan yang konsisten dan relatif stabil.

Posisi strategis itu juga menjadikan KBMI 3 sebagai penantang paling masuk akal bagi bank-bank besar. Model bisnis mereka cenderung lebih fokus, adaptif, dan dekat dengan sektor riil. Masing-masing bank punya ceruk yang jelas dan tidak asal besar.

BTN, misalnya, sangat kuat di pembiayaan perumahan. BSI menancapkan posisi di ekosistem halal dan konsumer syariah. Bank CIMB Niaga unggul di segmen ritel dan korporasi menengah, sementara Bank Mega mengandalkan kekuatan konglomerasi. Kekuatan yang tersegmentasi inilah yang membuat Bank KBMI 3 tetap jadi tumpuan pasar.

Per Oktober 2025, KBMI 3 menguasai 26,94 persen pangsa aset perbankan nasional. Pangsa kreditnya mencapai 27,39 persen, dan DPK sebesar 27,28 persen. Menariknya, angka-angka ini relatif stabil dalam tiga tahun terakhir. Artinya, meski ditekan dari dua arah, posisi KBMI 3 masih cukup kokoh.

Dari sisi pertumbuhan, kredit KBMI 3 tumbuh 15,11 persen secara tahunan menjadi Rp2.278,73 triliun. DPK melonjak 24,02 persen menjadi Rp2.661,43 triliun, sementara total aset naik 18,36 persen menjadi Rp3.561,12 triliun. Angka ini menunjukkan kemampuan intermediasi yang masih ngebut.

Kalau dibedah per bank, BSI mencatat pertumbuhan double digit di aset, DPK, dan pembiayaan. BTN unggul di pertumbuhan DPK sebesar 15,96 persen dan masih mendominasi pangsa aset, kredit, serta DPK di KBMI 3. Di sisi bank swasta, Bank DBS Indonesia paling agresif di kredit dengan pertumbuhan 22,89 persen, Bank UOB Indonesia unggul di laba yang melonjak 131,31 persen, sementara Bank Mega paling jago menghimpun dana dengan pertumbuhan DPK 26,29 persen.

Tapi, tidak semua cerita KBMI 3 manis. PaninBank mencatat kontraksi kredit 4,72 persen dan DPK 2,02 persen yang membuat labanya turun 4,37 persen. Maybank Indonesia juga mengalami kontraksi kredit, sementara laba SMBC Indonesia dan HSBC Indonesia masing-masing turun 23,85 persen dan 19,37 persen. Ini jadi pengingat bahwa tekanan di kelompok ini nyata.

Baca juga: Dorongan Konsolidasi Menguat, Bank KBMI 1 Masih Bertaji

Tekanan utama Bank KBMI 3 ada di profitabilitas. Basis dana murah (CASA) mereka belum sekuat KBMI 4, tapi juga tidak sebebas KBMI 2 untuk agresif menaikkan bunga. Dengan CASA rata-rata 40 persen-60 persen, ruang menekan biaya dana jadi terbatas. Kontribusi laba KBMI 3 ke industri pun baru 17,89 persen, dengan pertumbuhan laba 13,47 persen.

Dari sisi permintaan kredit, tantangannya juga belum selesai. Banyak bank KBMI 3 mencatat penurunan loan to deposit ratio (LDR), menandakan likuiditas ada tapi belum tersalurkan optimal. Di Bank CIMB Niaga, misalnya, LDR turun dari 84,29 persen ke 81,06 persen dan NIM ikut turun. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menegaskan bahwa masalahnya ada di demand.

“Dari sisi liquidity terlihat membaik sehingga cost of fund berangsur turun. Kami harapkan ke depan ini juga menurunkan rate kredit,” ujarnya kepada Infobank Januari lalu.

Senada tapi lebih optimistis, Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, “Biaya dana sudah mulai turun sejak semester kedua 2025 sehingga tekanan terhadap likuiditas menurun. Indeks keyakinan konsumen juga mulai naik sehingga diharapkan kredit membaik,”. (*) Ayu Utami

Baca laporan selengkapnya: Nasib 59 Bank KBMI 1, Siapa Bakal Dilahap Asing?, di Majalah Infobank No. 574 edisi Februari 2026.

Related Posts

News Update

Netizen +62