Poin Penting
- Kredit tumbuh 15,9 persen yoy menjadi Rp899,53 triliun, DPK naik 29,2 persen menjadi Rp1.040,83 triliun, dengan permodalan kuat (CAR 20,7 persen) dan laba bersih Rp20 triliun
- Pengguna wondr by BNI melampaui 12 juta, BNIdirect tumbuh lebih dari 25 persen, sementara kualitas aset membaik dengan NPL bruto 1,9 persen dan coverage ratio di atas 200 persen
- BNI aktif mendukung program prioritas nasional dan mencatat portofolio pembiayaan berkelanjutan Rp197 triliun (22 persen kredit).
Jakarta – Kinerja fundamental PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI tumbuh solid di 2025. Di tengah berbagai tekanan dan dinamika ekonomi, fungsi intermediasi BNI tumbuh positif, dengan struktur pendanaan dan kualitas aset yang semakin baik.
Per Desember 2025, kredit BNI tumbuh 15,9 persen year on year (yoy), atau menjadi Rp899,53 triliun. Ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif pun semakin kuat.
Sementara, dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp1.040,83 triliun, atau naik 29,2 persen. Struktur funding juga membaik, dengan dana murah (CASA) 28,9 persen, atau Rp725,96 triliun.
Menurut Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan, raihan itu merefleksikan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujar Putrama, Selasa, 3 Februari 2026.
Ia menambahkan, transformasi BNI tidak hanya berfokus pada penguatan teknologi, tapi juga penguatan organisasi dan peningkatan produktivitas. Langkah itu dilakukan lewat peningkatan kapabilitas SDM, optimalisasi jaringan kantor dan pemanfaatan data analytics, serta penguatan platform digital.
Terkait transformasi digital, BNI terus memperkuat wondr by BNI sebagai personal transaction platform. Per 2025, jumlah pengguna wondr by BNI sudah lebih 12 juta users. Di samping itu, BNI pun menyempurnakan platform BNIdirect, untuk layanan Cash Management, Trade Finance, Bank Guarantee, dan Supply Chain Financing bagi segmen korporasi dan bisnis. Sepanjang 2025, BNIdirect mencatat pertumbuhan jumlah pengguna dan nilai transaksi lebih dari 25 persen.
Baca juga: Pendekatan Purpose dan Impact dalam Layanan Private Banking BNI
Di luar itu, BNI juga memperkuat peran dalam membantu ekspansi bisnis pengusaha Indonesia ke pasar global lewat jaringan internasional di 8 pusat keuangan dunia, serta kemitraan strategis dengan lebih dari 1.300 bank koresponden di 90 negara yang mencakup 16 mata uang.
Di dalam negeri, perseroan berkontribusi dalam mendukung program prioritas pemerintah dan Asta Cita. BNI berkontribusi mendukung sektor-sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, serta sektor riil. Peran ini dilakukan lewat pembiayaan yang terarah, penguatan layanan keuangan, dan digitalisasi.
BNI antara lain menjalankan peran aktif dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat. BNI juga turut mendorong pembangunan desa, koperasi, dan UMKM melalui pembiayaan untuk pengembangan Koperasi Kecamatan/Kelurahan Desa Merah Putih (KDKMP) serta memperkuat dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah melalui penyaluran KPR FLPP.
“Sebagai bank milik negara, BNI memposisikan diri tidak hanya sebagai lembaga intermediasi, tetapi sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengakselerasi agenda pembangunan nasional. Sinergi kami dalam berbagai program prioritas pemerintah kami jalankan dengan pendekatan yang prudent, berbasis ekosistem, dan berorientasi pada penguatan fundamental ekonomi jangka panjang,” imbuh Putrama.
Sementara, Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, pada 2025, BNI berhasil menjaga kinerja intermediasi positif dan berimbang. Kinerja intermediasi tetap solid meski kondisi ekonomi menantang. Kredit yang terdiversifikasi disebut menjagi kunci perseroan menjaga kualitas portofolio.
Pengelolaan neraca BNI sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat. Fokus utama diarahkan pada penguatan pendanaan berbasis CASA. Strategi itu membuahkan hasil dan berimbas positif pada kinerja BNI secara keseluruhan.
Sementara dari sisi fundamental, permodalan BNI juga tetap kokoh, dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7 persen, jauh di atas ketentuan regulator. Dukungan modal yang kuat dan likuiditas mumpuni memberikan ruang memadai bagi BNI untuk ekspansi bisnis, sekaligus mengantisipasi risiko.
Momentum ekspansi bisnis tercermin di kuartal akhir 2025, di mana perseroan mencatatkan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp9,4 triliun, tertinggi dibandingkan 3 kuartal sebelumnya, Akselerasi PPOP di kuartal IV ini disokong pertumbuhan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).
Secara kumulatif 2025, NII dibukukan sebesar Rp40,3 triliun. Sedangkan FBI tumbuh 5,2 persen menjadi Rp24,6 triliun, ditopang kenaikan aktivitas transaksi melalui digital channel, treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas cabang.
Kualitas aset juga membaik, dengan NPL bruto tercatat sebesar 1,9 persen atau membaik 10bps secara tahunan. Adapun Loan at Risk (LaR) 8,5 persen atau membaik 1,8 persen secara tahunan. Dari sisi NPL coverage ratio mencapai 205,5 persen dan LaR coverage ratio mencapai 46,9 persen, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.
“Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali,” jelas Paolo.
Dari bisnis yang tumbuh sehat, dan kualitas aset yang membaik sepanjang 2025, BNI mengantongi laba bersih konsolidasi sebesar Rp20,0 triliun.
Baca juga: Perkuat Industri Kelistrikan, BNI-Siemens Indonesia Sepakati Pembiayaan Rp300 Miliar
Memperkuat Aspek Keberlanjutan
BNI juga memperkuat komitmen terhadap praktik berkelanjutan. Pada 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI mencapai Rp197 triliun, atau setara 22 persen terhadap total kredit. Pembiayaan tersebut disalurkan ke berbagai sektor, antara lain energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam dan penggunaan lahan, pengelolaan air dan limbah, serta segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Direktur Risk Management BNI David Pirzada menyampaikan, BNI akan terus memperluas pembiayaan pada sektor-sektor prioritas hijau, termasuk energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
“Keberlanjutan bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, tetapi telah menjadi fondasi strategi bisnis BNI dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tegas David.
Pada 2025, BNI juga menerbitkan Sustainability Bond senilai Rp5 triliun, dengan peringkat idAAA. Framework Sustainability Bond BNI juga telah memperoleh Second Party Opinion (SPO) dari Sustainalytics dengan hasil credible and impactful. (*) Ari Astriawan










