Poin Penting
- Pemerintah menegaskan kebijakan menaikkan free float dari 7,5 persen ke 15 persen tidak akan mengurangi aktivitas pasar modal
- Free float yang lebih besar dinilai akan menarik lebih banyak investasi dan mendorong likuiditas perdagangan saham
- Kebijakan ini menyelaraskan pasar modal RI dengan praktik global serta memperkuat stabilitas Indonesia di pasar emerging market.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan keputusan pemerintah untuk meningkatkan porsi free float saham dari 7,5 persen menjadi 15 persen tidak akan mengakibatkan pasar modal menjadi sepi.
Airlangga menjelaskan, pemerintah telah menganalisis keputusan tersebut secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan para investor. Kebijakan ini diharapkan dapat mengerek investasi yang masuk ke Indonesia hingga likuiditas yang meningkat.
“Tidak, jadi kita sudah lihat bahwa berapa kebutuhan investor, kalau free float naik kan sebetulnya investasi akan masuk, likuiditas meningkat,” ujar Airlangga di Wisma Danantara, Jumat, 30 Januari 2026.
Baca juga: Dirut BEI Mundur, Purbaya: Ini Positif, Waktunya ‘Serok’ Saham!
Airlangga menyebutkan, selama ini free float di Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain seperti, Malaysia 25 persen, Hong Kong 25 persen, Jepang 25 persen, Thailand 15 persen, Singapura dan Filipina 10 persen, dan Inggris 10 persen.
“Jadi kita ambil langkah yang relatif lebih terbuka dan tata kelola lebih baik,” pungkas Airlangga.
Baca juga: BEI Pastikan Kenaikan Free Float ke 15 Persen Tak Ganggu Minat IPO
Menurutnya, dengan free folat yang lebih tinggi, maka pasar saham Indonesia akan lebih stabil dan mengikuti standar internasional.
“Tidak, justru akan meningkatkan kestabilan kita di emerging market. Karena ini sudah setara dengan berbagai negara,” paparnya. (*)
Editor: Galih Pratama










