Poin Penting
- Pembiayaan emas BSN naik dari Rp17 miliar menjadi Rp50 miliar atau tumbuh hampir 400 persen, didorong fokus ke nasabah existing, kemitraan supplier emas, dan diversifikasi non-KPR
- Selain KPR syariah sebagai core business, BSN memperkuat pembiayaan non-KPR seperti emas, cicil emas, multiguna, dan multijasa berbasis payroll
- BSN membidik total pembiayaan konsumer sekitar Rp1 triliun pada 2026, didukung tren positif KPR syariah, peningkatan kuota rumah subsidi, serta penguatan layanan digital.
Jakarta – PT Bank Syariah Nasional (BSN) mencatatkan kinerja positif pada pembiayaan emas sejak resmi beroperasi sebagai bank umum syariah pada 22 Desember 2025.
Dalam waktu sekitar satu bulan, nilai pembiayaan emas BSN meningkat dari sekitar Rp17 miliar menjadi Rp50 miliar secara tahunan, atau tumbuh hampir 400 persen.
Direktur Consumer Banking BSN, Mochamad Yut Penta mengatakan, lonjakan tersebut didorong oleh fokus pemasaran kepada nasabah existing yang telah dikenal profil dan kebutuhannya, dukungan kemitraan dengan supplier emas guna menjaga kualitas layanan, serta diversifikasi portofolio pembiayaan ke segmen non-KPR. Pembiayaan emas saat ini menjadi salah satu produk non-KPR yang diprioritaskan perseroan.
“Kami memang masih baru, sehingga strategi utama kami tetap menjadi pemimpin di sektor perumahan, khususnya pembiayaan KPR syariah. Di saat yang sama, kami juga berupaya meningkatkan kualitas finansial melalui diversifikasi portofolio pembiayaan,” ujar Penta, usai Pembukaan BTN Expo, Rabu, 28 Januari 2026, malam.
Baca juga: Fokus Garap Perumahan, BSN Bidik Pembiayaan 2026 Tumbuh 20 Persen
Selain pembiayaan emas, BSN juga mengembangkan pembiayaan multiguna dan multijasa berbasis payroll sebagai bagian dari strategi memperluas layanan konsumer.
Langkah ini sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam terhadap produk pembiayaan berbasis prinsip syariah.
“Karena itu, kami tidak hanya fokus pada KPR, tetapi juga merambah ke pembiayaan non-KPR, seperti pembiayaan emas dan cicil emas, serta pembiayaan multiguna dan multijasa sesuai prinsip syariah,” tambahnya.
Target Pembiayaan Konsumer Rp1 Triliun
Seiring strategi tersebut, BSN mulai mengakselerasi ekspansi pembiayaan konsumer secara lebih luas. Bank hasil spin-off dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk ini menargetkan total pembiayaan konsumer mencapai sekitar Rp1 triliun pada 2026. Target tersebut saat ini masih dalam proses pengkajian dan review bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Untuk pembiayaan non-KPR, kami akan lebih agresif. Namun kami tetap memiliki strategi untuk mempertahankan posisi sebagai pemimpin KPR berbasis prinsip syariah,” katanya.
Di sisi pembiayaan perumahan, Penta menyebut tren KPR syariah masih menunjukkan kinerja positif tahun ini. Sepanjang tahun lalu, KPR subsidi mencatatkan pertumbuhan terbesar, dengan realisasi pembiayaan tumbuh di atas 20 persen.
Minat generasi muda terhadap produk pembiayaan berbasis prinsip syariah turut menjadi pendorong pertumbuhan tersebut.
Baca juga: BTN Proyeksikan Pertumbuhan Rumah Subsidi di Atas 10 Persen, Bidik 210 Ribu Unit di 2026
Adapun dari sisi strategi pemasaran, BSN fokus pada penguatan eksistensi dan peningkatan kapasitas. Tahun ini, BSN memperoleh kuota sekitar 73 ribu unit rumah, meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai 59 ribu unit rumah.
“Strategi paling mendasar adalah menyampaikan kepada masyarakat bahwa BSN sudah fully operation dan layanan kami sudah bisa dinikmati lebih luas. Kami juga memperkuat marketing communication, kapasitas dan efisiensi,” jelas Penta.
Untuk memperkuat layanan dan memperluas akses nasabah, BSN pun turut mengembangkan Bale Syariah by BSN, layanan digital yang berbagi platform dengan BTN Bale milik induk usaha.
Layanan ini telah beroperasi penuh dan menjadi bagian dari strategi digitalisasi BSN dalam mendukung pertumbuhan bisnis konsumer. (*) Ayu Utami










