Poin Penting
- MSCI membuka peluang menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market
- MSCI menangguhkan seluruh perubahan indeks saham Indonesia pada rebalancing Februari 2026, termasuk tidak ada penambahan saham ke IMI dan tidak ada promosi dari Small Cap ke Standard
- Dampak keputusan MSCI memicu gejolak pasar, IHSG sempat anjlok hingga 8 persen dan BEI memberlakukan trading halt.
Jakarta – Posisi Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market) kembali diuji. Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara terbuka membuka kemungkinan reklasifikasi status pasar modal Indonesia menjadi frontier market. Ini seiring berlanjutnya kekhawatiran investor global terhadap transparansi kepemilikan saham dan kualitas data free float di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam pengumuman yang disampaikan Selasa (27/1), MSCI menegaskan masih menahan sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia.
Langkah ini diambil setelah menerima banyak masukan dari investor global yang menilai transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia belum cukup kuat untuk menopang penilaian kelayakan investasi secara konsisten.
Sebagian investor memang mendukung penggunaan laporan registrasi efek bulanan dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai acuan tambahan penghitungan free float.
Namun, MSCI mencatat keberatan signifikan terhadap penggunaan data klasifikasi pemegang saham versi KSEI yang dinilai belum sepenuhnya andal.
Baca juga: MSCI Guncang IHSG, Ini yang Bakal Dilakukan BEI
“MSCI menerima masukan bahwa data tersebut belum cukup mendukung penilaian free float dan investability secara berkelanjutan,” tulis MSCI dalam pernyataannya yang juga dirangkum oleh Kiwoom Research.
MSCI mengakui terdapat perbaikan minor pada data feed free float di BEI. Namun, perbaikan tersebut dinilai belum menyentuh persoalan mendasar, terutama terkait rendahnya transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran akan potensi perdagangan terkoordinasi yang berisiko mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar.
Berdasarkan penilaian tersebut, MSCI memutuskan menangguhkan seluruh perubahan terkait saham Indonesia pada periode rebalancing Februari 2026.
Dampaknya, bobot Foreign Inclusion Factor (FIF) saham Indonesia tetap, tidak ada saham Indonesia yang masuk ke MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak ada promosi saham dari kategori Small Cap ke Standard.
Menurut MSCI, kebijakan ini diambil untuk menekan index turnover dan risiko kelayakan investasi, sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk melakukan perbaikan yang lebih substansial.
“Jika tidak ada perubahan signifikan hingga Mei 2026, MSCI dapat menurunkan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes, dan membuka kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market,” tegas MSCI.
MSCI menambahkan, pihaknya akan terus memantau perkembangan pasar modal Indonesia dan melanjutkan konsultasi dengan pelaku pasar serta regulator terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca juga: MSCI Bikin IHSG Rontok Hampir 8 Persen, Begini Respons BEI
BEI Lakukan Trading Halt
Efek keputusan MSCI sangat terasa pada perdagangan saham Indonesia. Pada perdagangan sesi II Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melorot hingga 8 persen. BEI pun mengambil sikap untuk menghentikan sementara perdagangan pada pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), Rabu, 28 Januari 2026.
Pelemahan IHSG tersebut imbas dari indeks global MSCI yang memutuskan membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia, menyusul kekhawatiran atas isu free float dan aksesibilitas pasar. (*)









