Poin Penting
- BRI Peduli menjalankan program Cegah Stunting Itu Penting untuk mendukung pencegahan stunting di berbagai daerah.
- Program mencakup bantuan nutrisi, antropometri kit, dan edukasi gizi bagi balita, ibu hamil, dan keluarga.
- Sejak 2022, program telah menjangkau ribuan penerima manfaat di puluhan posyandu dan puskesmas.
Jakarta – Gizi pada anak balita masih menjadi isu penting dalam kesehatan masyarakat Indonesia. Stunting tidak hanya ditandai oleh terhambatnya pertumbuhan tinggi badan, tetapi juga berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah, BRI terus berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penurunan prevalensi stunting. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli bertajuk “Cegah Stunting Itu Penting” yang dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia.
Program “Cegah Stunting Itu Penting” digelar di sejumlah wilayah, antara lain di Puskesmas Cilincing, Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara, dan Puskesmas Pangalengan, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada 25 Januari
Baca juga: Siap-Siap! Purbaya Beri Hadiah Total Rp300 M untuk Daerah Berprestasi Turunkan Stunting
Corporate Secretary BRI, Dhanny mengungkapkan bahwa program tersebut merupakan bentuk dukungan BRI terhadap upaya pemerintah dalam menekan angka stunting, serta mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainability Development Goals/SDGs) Nomor 2 “Tanpa Kelaparan”.
Paket Nutrisi hingga Antropometri Kit
Kegiatan BRI Peduli mencakup pemberian paket nutrisi bergizi bagi anak stunting, paket makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita, serta penyediaan antropometri kit guna mendukung pengukuran tumbuh kembang anak secara akurat di posyandu dan puskesmas.
Setiap paket antropometri kit terdiri dari timbangan digital, timbangan bayi, infantometer, stadiometer, dan tensimeter digital.
Selain bantuan fisik, program ini juga diperkuat melalui edukasi gizi dan pola asuh bagi orang tua, ibu hamil, dan remaja putri sebagai langkah pencegahan sejak dini.
“Melalui pelaksanaan kegiatan ini, pencegahan stunting tidak hanya diposisikan sebagai isu kesehatan semata, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas,” ungkap Dhanny.
Baca juga: Cek Rekening! BRI Cairkan Dividen Interim Rp20,6 Triliun Hari Ini
Dhanny menambahkan, upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran masyarakat dalam mendukung penurunan stunting secara berkelanjutan serta meningkatkan kualitas hidup anak-anak sebagai aset pembangunan masa depan.
Telah Menjangkau Ribuan Penerima Manfaat
Sejak dijalankan pada 2022, program BRI Peduli Cegah Stunting Itu Penting telah menjangkau 7.783 warga, yang terdiri dari orang tua, balita, ibu hamil, dan remaja putri. Program ini juga menyalurkan 130 paket antropometri dan dilaksanakan di 49 posyandu dan puskesmas di berbagai wilayah, seperti Jakarta, Padang, Yogyakarta, Denpasar, Malang, Makassar, Banjarmasin, dan Manado.
Di Puskesmas Cilincing, program ini menyasar balita dan ibu hamil. Wilayah tersebut tercatat masih memiliki prevalensi stunting kategori medium, dengan 55 anak berisiko stunting dalam tahap pemulihan dan 150 anak berisiko stunting dalam tahap penyuluhan.
Baca juga: Pertama di Indonesia, BRI Terbitkan Surat Berharga Komersial Rp500 Miliar
Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi pencegahan stunting, pemberian Paket Makanan Tambahan (PMT), pemeriksaan kesehatan gratis, dan penyaluran antropometri kit.
Kolaborasi Multipihak Diperlukan
Pada kesempatan tersebut, Ahli Gizi Puskesmas Kecamatan Cilincing, Masliani Novaria, menilai program ini sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penurunan angka stunting.
“Terima kasih kepada BRI Peduli atas dukungan dalam program Cegah Stunting Itu Penting di wilayah Kecamatan Cilincing dengan berbagai manfaat yang diberikan,” ujarnya.
“Harapannya, semoga BRI terus dapat mendukung intervensi pencegahan stunting di Indonesia, karena penanganan pencegahan stunting ini tidak bisa hanya digaungkan dan dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga memerlukan kolaborasi multipihak dalam pelaksanaannya guna mendukung percepatan penurunan angka stunting,” imbuhnya. (*)










