Poin Penting
- Investor asing mencatat net sell Rp1,88 triliun pada perdagangan 21 Januari 2026, didominasi saham perbankan berkapitalisasi besar.
- BBCA menjadi saham paling banyak dijual asing dengan nilai Rp1,72 triliun, disusul BUMI, UNTR, GOTO, dan BRMS.
- IHSG melemah 1,36% ke level 9.010,33, seiring mayoritas saham dan seluruh indeks domestik bergerak di zona merah.
Jakarta – Aliran dana investor asing tercatat keluar dari Indonesia, dengan Net Foreign Sell pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, tembus senilai Rp1,88 triliun.
Kali ini, arus keluar investor asing tersebut didominasi oleh saham sektor keuangan, khususnya perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo. Hal tersebut tentunya mengurangi porsi net foreign buy secara year-to-date (ytd) menjadi sebesar Rp3,55 triliun.
Baca juga: IHSG Dibuka Menguat 0,39 Persen ke Level 9.045
Berdasarkan data Phillip Sekuritas Indonesia, lima saham dengan nilai jual asing terbesar adalah:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp1,72 triliun
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Rp456,04 miliar
- PT United Tractors Tbk (UNTR): Rp133,78 miliar
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO): Rp103,41 miliar
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Rp76,77 miliar.
Hal itu sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin berbalik bertahan pada zona merah ke posisi 9.010,33 atau melemah 1,36 persen dari posisi 9.134,70.
Baca juga: IHSG Berpotensi Melemah, 6 Saham Ini Justru Siap Kasih Cuan
Adapun, berdasarkan statistik RTI Business, tercatat sebanyak 546 saham terkoreksi, 179 saham menguat, dan 77 saham tetap tidak berubah.
Lalu, sebanyak 61,72 miliar saham diperdagangkan dengan 4,03 juta kali frekuensi perpindahan tangan, serta total nilai transaksi Rp34,23 triliun.
Seluruh indeks dalam negeri bergerak negatif, dengan IDX30 turun 0,09 persen menjadi 433,04, LQ45 merosot 0,23 persen ke 822,61, JII melemah 0,69 persen menjadi 563,88, dan Sri-Kehati turun 0,55 persen menjadi 379,12.
Tidak hanya itu, hampir seluruh sektor mengalami koreksi dengan tiga sektor yang mencatat pelemahan tertinggi, yakni sektor industrial, sektor properti, dan sektor transportasi. (*)
Editor; Yulian Saputra










