IHSG Pecah Rekor, MAMI Ingatkan Investor Tak Terjebak FOMO

IHSG Pecah Rekor, MAMI Ingatkan Investor Tak Terjebak FOMO

Poin Penting

  • IHSG sempat menembus rekor 9.174 sebelum ditutup melemah 1,36 persen pada 21 Januari 2026.
  • MAMI mengingatkan rekor pasar kerap memicu FOMO, overconfidence, dan keputusan buy high, sell low.
  • Investor disarankan fokus pada time in the market, DCA, diversifikasi, dan rebalancing, bukan market timing.

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak signifikan sejak awal 2026 dan sempat mencetak rekor all time high (ATH) di level 9.174,47 pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026.

Namun, pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, IHSG ditutup melemah 1,36 persen ke posisi 9.010,33 dari level sebelumnya 9.134,70. Pelemahan ini terjadi setelah IHSG mencatatkan penguatan selama lima hari berturut-turut.

Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Dimas Ardhinugraha, mengingatkan bahwa kondisi ATH kerap memicu sikap takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO), overconfidence, dan performance chasing di kalangan investor.

Baca juga: IHSG Ditutup Melemah ke 9.010, UNTR dan ASII Pimpin Top Losers

Menurutnya, bias perilaku tersebut sering menggerus hasil investasi akibat keputusan membeli di harga tinggi dan menjual di harga rendah (buy high, sell low).

“Agen penjual reksa dana juga mengingatkan bahwa market timing sulit bahkan bagi profesional, strategi yang lebih andal adalah investasi berkala (Dollar Cost Averaging/DCA) dan diversifikasi lintas aset, terutama saat emosi memanas,” kata Dimas dalam risetnya dikutip, Rabu, 21 Januari 2026.

Jangan Lewatkan Hari Terbaik Pasar

Dimas menjelaskan, sejumlah studi menunjukkan mahalnya dampak melewatkan beberapa hari terbaik pasar setelah gejolak. Pasalnya, rebound sering terjadi secara cepat sehingga absen pada hari-hari kunci dapat memangkas imbal hasil secara drastis.

“Karena hampir mustahil menebak kapan terjadinya best days, maka disiplin alokasi dan time in the market berpeluang menghasilkan profil imbal hasil atau risiko yang lebih baik bagi mayoritas investor,” ujarnya.

Baca juga: Tancap Gas! IHSG Cetak ATH Baru ke Level 9.133

ATH Bukan Otomatis Sinyal Jual

Lebih lanjut, Dimas menegaskan bahwa kondisi ATH bukan berarti menjadi sinyal otomatis untuk menjual, sama halnya dengan koreksi pasar yang tidak selalu menjadi sinyal beli tanpa analisis.

“Pemahaman perbedaan metodologi indeks, kesadaran akan bias perilaku, dan komitmen pada proses DCA, diversifikasi, rebalancing adalah kunci menerjemahkan rekor pasar menjadi hasil investasi yang lebih konsisten,” imbuh Dimas.

Ia menambahkan, investor perlu menjaga diversifikasi lintas aset dan strategi, serta tidak berfokus pada satu sektor atau instrumen yang tengah outperform. Strategi ini dapat dikombinasikan dengan saham berkapitalisasi besar, obligasi, dan pasar uang sesuai profil risiko.

Baca juga: Breaking News! BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen pada Januari 2026

Selanjutnya, pada fase euforia, strategi DCA membantu menahan diri dari overtrading dan menormalkan harga masuk. Sementara itu, rebalancing berkala berfungsi mengunci sebagian keuntungan dari aset yang sudah melesat dan mengalihkan ke aset yang tertinggal.

Tidak hanya itu, investor juga perlu memahami dispersi, yakni perbedaan kinerja antara IHSG, LQ45, dan reksa dana saham yang dapat melebar pada fase tertentu.

Menurut Dimas, kondisi tersebut lebih mencerminkan perbedaan komposisi dan metodologi indeks, bukan kegagalan strategi investasi.

Ketika pasar mulai berotasi dari saham high momentum ke saham quality atau liquid blue chips, selisih kinerja tersebut berpeluang menyempit kembali. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62