Poin Penting
- Saham BBTN melonjak tajam dan sangat aktif diperdagangkan, dengan kenaikan volume dan nilai transaksi di atas 100 persen secara mingguan
- Katalis positif datang dari fundamental dan kebijakan, mulai dari rebranding Tabungan BTN Pos hingga keberlanjutan subsidi KPR Sejahtera FLPP 2026
- Secara teknikal, BBTN menembus level resisten penting, memicu rekomendasi buy dan membuka peluang kenaikan lanjutan, dengan dominasi buyer dan sinyal bottom reversal.
Jakarta – Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) bergerak melonjak dalam sepekan terakhir dengan rentang antara Rp1.150 hingga Rp1.245. Hal ini menunjukan volatilitas tinggi di pekan yang berlangsung dalam empat sesi.
Dalam keterangan resmi manajemen yang diterima Infobanknews, Senin (19/1), aktivitas transaksi atas saham BBTN pekan ini melonjak dibandingkan pekan lalu di seluruh indikator.
Rata-rata volume perdagangan dan nilai transaksi bahkan meningkat di atas 100 persen dibandingkan dengan pekan sebelumnya.
Kinerja saham BBTN pekan ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 1,55 persen dan indeks LQ45 yang menguat 2,47 persen. Begitu juga dengan indeks sektor keuangan (IDX Finance) yang menguat 1,02 persen.
“Pergerakan saham BBTN pekan ini bersamaan dengan sejumlah momentum, antara lain rebranding e’Batarapos menjadi BTN Pos, kepastian subsidi uang muka skema KPR Sejahtera FLPP dan rekomendasi “buy” dari sejumlah sekuritas,” tulis manajemen BTN.
Baca juga: Dirut BTN Nixon LP Napitupulu Dinobatkan sebagai Bankers of The Year 2025
Peluas Dana Murah
BTN sendiri mengganti e’Batarapos menjadi Tabungan BTN Pos untuk memperluas basis dana murah, dengan target CASA Rp5 triliun dalam setahun.
Strateginya bertumpu pada distribusi lewat hampir 3.000 kantor pos dan transaksi digital berbasis aplikasi Bale by BTN, terutama di segmen Gen Z dan wilayah 3T.
Sementara itu, dari sisi program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), pemerintah tetap mempertahankan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Sejahtera pada 2026 dengan subsidi uang muka Rp4 juta untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) guna menurunkan beban awal pembelian rumah.
Harga rumah subsidi juga tidak naik dan masih mengikuti batas maksimal 2024 sesuai zonasi, sehingga menjaga keterjangkauan dan berpotensi menopang permintaan KPR di tengah pemulihan sektor properti.
Katalis positif lainnya bersumber dari penyerapan belanja BTN. Bank spesialis properti ini menghimpun dana Rp2,3 triliun melalui penerbitan dua obligasi pada Desember 2025.
Dana bersih sebesar Rp2,28 triliun telah terserap sepenuhnya per 31 Desember 2025. Sebanyak Rp294,80 miliar dialokasikan untuk proyek sosial dan perumahan terjangkau, sementara Rp1,99 triliun digunakan untuk memperkuat permodalan serta mendukung ekspansi kredit perusahaan
Selain aspek fundamental, pelaku pasar juga menyoroti sisi teknikal pergerakan harga saham.
Baca juga: BBTN Makin Menjanjikan, Rekomendasi Buy Dipertahankan
Dalam riset yang dipublikasikan pekan lalu, Galeri Saham mencermati BBTN tengah berkonsolidasi sehat dan terus menguji level resisten terkuatnya di level Rp1.175.
“Jika level ini berhasil ditembus dan bertahan di atasnya, tentu ada potensi bagi BBTN untuk bergerak naik lebih tinggi menuju Rp1.395 dengan minor target di Rp1.270. Support yang naik terus menunjukkan adanya dominasi buyer di saham ini. Trend optimizer yang berubah warna dari merah panjang ke putih menunjukan saham ini berada di fase bottom reversal,” tulis Galeri Saham.
Pada perdagangan rabu, BBTN berhasil menembus (breakout) resisten Rp1.175 dengan diiringi lonjakan volume transaksi dan net buy. Harga terus menanjak hingga menyentuh level Rp1.220. (*)
Editor: Galih Pratama










