Poin Penting
- Bank Ayandeh bangkrut pada akhir 2025, meninggalkan kerugian hampir USD5 miliar akibat kredit macet, praktik pinjaman bermasalah, dan ketergantungan pada pencetakan uang.
- Krisis ini mencerminkan rapuhnya sistem keuangan Iran, yang tertekan sanksi Barat, inflasi tinggi, kekurangan likuiditas, dan dugaan korupsi di sektor perbankan.
- Lisensi Bank Ayandeh dicabut dan diambil alih negara, dengan aset, nasabah, dan karyawan dialihkan ke Bank Melli, sementara lima bank lain diperkirakan menghadapi kondisi serupa.
Jakarta – Runtuhnya sebuah bank di Iran pada akhir 2025 menambah krisis kelam terpuruknya ekonomi di negara tersebut. Bank Ayandeh — yang dikelola oleh kroni-kroni rezim bangkrut dengan kerugian hampir USD5 miliar (setara sekitar Rp84,5 triliun) akibat tumpukan pinjaman kredit macet.
Berdasarkan laporan Wall Street Journal, Kamis, 15 Januari 2026, Bank Ayandeh menawarkan suku bunga tertinggi di antara perbankan Iran sehingga berhasil menarik jutaan nasabah.
Namun, di balik itu, Bank Ayandeh sangat bergantung pada pemerintah untuk mencetak uang dalam jumlah besar yang memicu inflasi.
“Bank Ayandeh juga melakukan praktik pemberian pinjaman kepada diri sendiri, seringkali meminjamkan uang kepada banyak perusahaan milik pendiri bank itu sendiri,” tulis laporan tersebut.
Baca juga: Danantara Targetkan Reformasi Besar Bank Himbara pada 2026
Bankrutnya Bank Ayandeh memperjelas tekanan berat yang dialami sistem keuangan Iran akibat sanksi negara-negara Barat selama bertahun-tahun, tingginya kredit macet, serta ketergantungan pada pencetakan uang yang memicu inflasi.
Kondisi ini memperburuk perekonomian nasional, membuat negara semakin kesulitan membayar utang dan mengalami kekurangan likuiditas. Bahkan, lima bank lain diperkirakan berada dalam kondisi lemah yang serupa.
“Ini adalah bank yang sangat berpengaruh, korupsi, dan sebagainya, yang menggarisbawahi bahwa sistem perbankan itu sendiri merupakan saluran untuk memperkaya orang-orang yang berpengaruh,” kata Adnan Mazarei, mantan Wakil Direktur Departemen Timur Tengah dan Asia Tengah di Dana Moneter Internasional (IMF).
Menurutnya, kegagalan Bank Ayandeh menambah daftar krisis legitimasi rezim Iran, terutama setelah serangan Israel.
Profil Bank Ayandeh
Bank Ayandeh didirikan pada 2013 oleh Ali Ansari, pengusaha Iran yang menggabungkan dua bank milik negara dengan bank lain yang sebelumnya ia dirikan.
Ali Ansari berasal dari salah satu keluarga terkaya di Iran dan diketahui memiliki rumah mewah bernilai jutaan dolar di London utara.
Baca juga: Konsumsi Diproyeksi Pulih 2026, Bank Mandiri Ungkap Faktor Pendorongnya
Sebelum dibubarkan, Bank Ayandeh memiliki sekitar 270 cabang di seluruh Iran, termasuk 150 cabang di ibu kota Teheran.
Pada Oktober 2025, lisensi operasional Bank Ayandeh resmi dicabut. Seluruh kegiatan perbankan dibubarkan dan bank tersebut diambil alih oleh negara.
Bank Sentral Iran menyatakan seluruh nasabah, karyawan, serta jaringan cabang Bank Ayandeh akan diserap oleh Bank Melli, bank milik negara.
Pembubaran ini dilakukan karena Bank Ayandeh menghadapi beban utang besar, kinerja yang tidak sehat, inefisiensi operasional, dan rasio kecukupan modal yang negatif. (*)
Editor: Yulian Saputra










