Poin Penting
- BBTN menjadi penerima manfaat utama program Tiga Juta Rumah dan FLPP, diperkuat spin-off UUS yang berpotensi membuka nilai pasar baru
- Hingga November 2025, laba bank only BTN naik 21,1 persen yoy menjadi Rp2,91 triliun, ditopang lonjakan NII 46,3 persen yoy dan pertumbuhan kredit 8,7 persen
- Dominasi BTN dalam penyaluran KPR FLPP, serta proyeksi pertumbuhan kredit 10–12 persen mendorong KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp1.530.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) berada dalam fase transformasi didukung pemerintah terkait sektor perumahan. Perseroan juga didukung tuntasnya spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) yang bisa menciptakan nilai tambahan melalui entitas syariah yang lebih fokus.
BBTN juga didukung kinerja operasional dan keuangan sepanjang Januari – November 2025 yang kuat, bahkan melampaui konsensus maupun proyeksi riset KB Valbury Sekuritas, meski berada di tengah suku bunga tinggi dan pertumbuhan biaya dana yang terkendali.
Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mengatakan, BTN menjadi penerima manfaat utama dari program pemerintah untuk penyediaan tiga juta unit rumah dan keberlanjutan skema FLPP. Kenaikan batas gaji untuk segmen subsidi juga memperluas pasar yang dapat digarap perseroan.
“Selain itu, pemisahan UUS menjadi entitas mandiri diproyeksikan membuka nilai pasar dan menangkap permintaan pembiayaan syariah yang bertumbuh, sehingga bakal menguntungkan BTN sebagai induk ke depan,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Baca juga: Rebranding Produk Tabungan BTN Pos, BTN Bidik Dana Murah Rp5 Triliun
Senada, pengamat properti Panangian Simanungkalit mengatakan, BTN memiliki potensi yang besar untuk mendukung program Tiga Juta Rumah ke depannya, terutama di tengah tanda-tanda pemulihan ekonomi dan bangkitnya sektor properti. Pasalnya, pertumbuhan properti selalu mengikuti pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan properti sudah mulai terlihat dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang meningkat dari 5,04 di kuartal III 2025 menjadi 5,45 persen pada kuartal IV 2025. Siklus ekonomi sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Biasanya properti akan mengikuti geliat ekonominya,” ujar Panangian dalam keterangannya, Rabu (14/1).
Menurut Panangian, tahun 2026 akan menjadi awal kebangkitan industri properti, salah satunya dibuktikan oleh peningkatan penyaluran KPR FLPP oleh BTN di sepanjang 2025. Berdasarkan data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), BTN menjadi penyalur KPR FLPP terbesar sebanyak 132.744 unit rumah pada 2025.
Terkait kinerja keuangan, BTN mencatatkan kenaikan laba bank only sebanyak 21,1 persen year on year (yoy) menjadi Rp 2,91 triliun hingga November 2025. Angka tersebut berada di atas ekspektasi konsensus dan proyeksi internal riset.
Kenaikan tersebut didukung kenaikan signifikan pendapatan bunga bersih (NII) sebanyak 46,3 persen yoy menjadi Rp15,79 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan pendapatan bunga 19,2 persen yoy dan biaya dana dengan kenaikan terkendali hanya 1,3 persen yoy.
BBTN juga berhasil mencatatkan kenaikan kredit sebanyak 8,7 persen menjadi Rp386,47 triliun hingga November 2025 atau lebih tinggi dari pertumbuhan industri perbankan domestik pada periode yang sama.
Adapun Dana pihak ketiga (DPK) naik 15,8 persen yoy menjadi Rp423,96 triliun, dan CASA tumbuh 6,8 persen yoy sebagai cerminanan strategi pendanaan berbasis dana murah (low-cost funding) yang terus diperkuat untuk mendukung margin dan profitabilitas jangka panjang.
Baca juga:Sepak Terjang Didyk Choiroel yang Diangkat Jadi Komisaris BTN
BTN juga berhasil mencatatkan peningkatan net interest margin (NIM) menjadi sekitar 3,55 persen sampai November 2025, meningkat dari 3,49 persen hingga Oktober 2025 dan jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Cost to Income Ratio (CIR) menurun, credit cost berada di level 1,73 persen, dan return on equity (ROE) naik menjadi 9,0 persen.
Sejumlah fakta tersebut mendorong KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp1.530. Saat ini saham BBTN diperdagangkan di bawah -1SD historis.
Target tersebut juga mempertimbangkan target pertumbuhan kredit BTN tahun 2026 berkisar 10–12 persen, pertumbuhan DPK yang lebih tinggi, serta pertumbuhan laba bersih dua digit. (*) DW










