Poin Penting
- Inflasi tinggi dan anjloknya nilai tukar rial memicu aksi protes massal di berbagai wilayah Iran sejak awal 2026
- Nilai tukar rial jatuh sekitar 45 persen terhadap dolar AS pada akhir 2025, diperparah sanksi Barat, korupsi sistemik, sistem kurs bertingkat, serta turunnya harga minyak
- Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menuding AS dan Israel menabur kekacauan
Jakarta – Gelombang demonstrasi yang dipicu krisis ekonomi menghantam Iran di awal 2026. Negara Arab yang dipimpin oleh Presiden Masoud Pezeshkian ini juga tengah berjuang dengan inflasi tinggi dan nilai tukar rial yang ambruk.
Dinukil laman Al Jazeera, Senin (12/1), aksi unjuk rasa telah terjadi di sejumlah wilayah di Iran. Dari rekaman video yang beredar, menunjukan bahwa protes besar-besaran terjadi pada Selasa malam di kota Abdanan, provinsi Ilam bagian tengah.
Ribuan demonstran, mulai dari anak-anak yang didampingi orang tua hingga para lansia, terekam berjalan dan berteriak di jalan-jalan kota kecil itu.
Sementara itu, pemerintah Iran pun langsung bertindak dengan memperketat pengawasan dan memberlakukan pemadaman internet sejak Kamis (8/1/2026).
Nihil, tindakan pembatasan ini disebut sia-sia lantaran tak menghentikan aksi demonstrasi.
Nilai Tukar Ambruk
Tentunya, gelombang protes tak muncul tiba-tiba. Pemicunya karena tekanan ekonomi yang kian memburuk. Mata uang rial tengah ambruk, daya beli masyarakat merosot hingga merembet pada lonjakan biaya hidup.
Baca juga: Kilas Balik Kepemimpinan Soeharto dan Warisan Krisis Ekonomi 1998
Dilansir Bloomberg, rial sendiri telah berada di bawah tekanan selama bertahun-tahun karena sanksi Barat dan korupsi sistemik yang telah merusak kepercayaan terhadap perekonomian.
Bahkan, pada akhir Desember 2025, rial merosot sekitar 45 persen terhadap dolar AS. Hal ini karena warga Iran mengonversi tabungan mereka ke mata uang asing, emas, atau properti.
Gejolak mata uang diperparah oleh sistem nilai tukar bertingkat, di mana pemerintah men-subsidi impor beberapa barang untuk entitas tertentu.
Sistem ini telah memicu korupsi, menyebabkan rasa tidak puas di kalangan warga Iran.
“Selama inflasi masih menjadi masalah kronis dalam perekonomian, berharap nilai tukar yang stabil tidaklah realistis,” terang Ekonom Mohammad Kohandal, dikutip CNBC.
Tekanan pada Rial juga datang dari faktor eksternal. Di mana, sanksi ini terkait dengan program nuklir Iran yang membatasi ekspor minyak dan menghambat akses ke perbankan internasional, sehingga mengurangi kemampuan negara tersebut untuk memperoleh dan memindahkan valuta asing.
Pun begitu dengan ekonomi Iran yang terpukul oleh jatuhnya harga minyak. Minyak mentah Brent turun 18 persen pada tahun 2025 menjadi sekitar USD60 per barel — jauh di bawah USD165 yang dibutuhkan pemerintah Iran untuk mencapai titik impas dalam anggarannya, menurut perkiraan IMF pada bulan Mei.
Presiden Iran Angkat Suara
Sementara itu, Masoud Pezeshkian angkat suara terkait gelombang demonstrasi warga di negerinya. Dalam sebuah wawancara di televisi pemerintah pada hari Minggu, dirinya menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai “biang kerok”.
Baca juga: Krisis Ekonomi Global Mengintai, BI Soroti Tarif Trump hingga Konflik India-Pakistan
Pezeshkian mengatakan, bahwa AS dan Israel ingin “menabur kekacauan dan ketidaktertiban” di Iran dengan memerintahkan “kerusuhan” dan menyerukan kepada warga Iran untuk menjauhkan diri dari “perusuh dan teroris”.
Senada, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan AS agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan”.
“Mari kita perjelas, jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kita,” kata Qalibaf, mantan komandan di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Diketahui, Iran menghadapi perang 12 hari dengan Israel dan AS tahun lalu setelah Israel tiba-tiba menyerang pada bulan Juni.
Fasilitas nuklir negara itu dibom oleh AS selama konflik tersebut. Ratusan warga sipil, komandan militer, dan ilmuwan tewas dalam serangan tersebut.
Iran membalas dengan ratusan rudal balistik terhadap kota-kota Israel. Jumlah korban tewas di pihak Israel mencapai 28 orang. (*)
Editor: Galih Pratama










