Poin Penting
- Defisit APBN 2025 tercatat 2,92 persen dari PDB, melebar dari target 2,53 persen, namun dinilai pemerintah masih aman karena tetap di bawah batas 3 persen
- Pelebaran defisit dipicu penerimaan negara yang hanya mencapai 91,7 persen dari target, yakni Rp2.756,3 triliun dari target Rp3.005,1 triliun
- Pemerintah sengaja menjaga defisit tetap ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih tergolong aman.
Adapun angka defisit tersebut melebar dari target APBN 2025 yang awalnya hanya sebesar 2,53 persen dari PDB atau sebesar Rp616,2 triliun.
“Nggak ada masalah, kan tahun kemarin sudah ditutup dan defisitnya masih aman di bawah 3 persen walaupun dekat,” ujar Airlangga di kantornya, Jumat, 9 Januari 2026.
Baca juga: Defisit APBN Melebar, Purbaya: Saya Bisa Bikin 0 Persen, tapi Ekonomi Morat-Marit!
Airlangga menjelaskan defisit APBN yang hampir menyentuh batas 3 persen tersebut masih wajar karena pendapatan negara tidak mencapai target atau hanya sebesar 91,7 persen atau Rp2.756,3 triliun terhadap target APBN 2025 Rp3.005,1 triliun.
Airlangga menegaskan, defisit yang melebar tersebut merupakan langkah pemerintah fokus terhadap pertumbuhan ekonomi dan mendukung program prioritas.
“Kan tentu kita lihat penerimaan kita mendekati 91,7 persen, jadi itu wajar saja, yang paling penting kita kejar pertumbuhan (ekonomi). Pertumbuhan kan kaitannya direct ke employment, penciptaan lapangan kerja jadi itu yang kita dorong,” imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, defisit yang melebar tersebut merupakan langkah pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian.
Baca juga: Defisit APBN 2025 Tembus 2,92 Persen, Meleset dari Target
“Walaupun menggelembung kita pastikan di bawah 3 persen ini adalah standar yang paling ketat, jadi kita mengacu ke sana terus walaupun keadaan agak menekan kita,” ungkap Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
“Walaupun defisit membesar ke Rp695,1 triliun itu lebih tinggi dari target APBN yang Rp662 triliun, tapi kita tetap jaga pastikan bahwa defisitnya tidak diatas 3 persen, defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari target 2,53 persen,” tambah Purbaya. (*)
Editor: Galih Pratama










