Perbankan

Waspada! Visa Ungkap Penipuan Digital Berbasis AI Makin Masif

Poin Penting

  • Visa mencatat penyebutan “AI Agent” meningkat 477 persen, menandai masifnya pemanfaatan AI dalam kejahatan digital yang menyasar ekosistem pembayaran
  • Nilai transaksi pembayaran digital Indonesia terus naik (hingga Rp19.000 triliun), namun diiringi lebih dari 400 ribu laporan penipuan online dengan kerugian Rp9,1 triliun
  • Visa menekankan pentingnya sinergi lintas industri dan pemanfaatan teknologi keamanan canggih berbasis AI untuk menjaga kepercayaan dan ketahanan ekonomi digital nasional.

Jakarta – Percepatan ekonomi digital nasional kian dibayangi tantangan baru di sisi keamanan siber. Visa mengungkapkan, penyebutan istilah “AI Agent” melonjak hingga 477 persen, mencerminkan masifnya penggunaan kecerdasan buatan dalam taktik kejahatan digital yang menyasar ekosistem pembayaran.

Lonjakan tersebut terungkap dalam paparan wawasan global Visa pada ajang Industry Risk & Digital Forum, yang mempertemukan pelaku perbankan, fintech, penyedia layanan pembayaran, hingga regulator di Indonesia.

Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas industri di tengah meluasnya adopsi pembayaran digital, mulai dari kartu, dompet digital, QRIS, hingga jaringan real-time account to account (A2A).

Baca juga: Strategi Tangkal Serangan Siber Berbasis AI yang Makin Masif

Visa mencatat, ekonomi digital Indonesia telah memasuki fase yang lebih matang. Infrastruktur seperti QRIS yang menjangkau puluhan juta merchant, BI-FAST yang menghadirkan transfer real-time berbiaya rendah, serta dominasi dompet digital dalam transaksi harian, mendorong Indonesia bergerak cepat menuju standar kota digital kelas dunia.

Di balik akselerasi tersebut, nilai transaksi pembayaran digital terus menanjak. Sepanjang tahun lalu, transaksi melalui kartu, dompet digital, QRIS, mobile banking, dan internet banking tumbuh 26 persen secara tahunan (yoy) hingga mencapai Rp7.000 triliun, menurut Bank Indonesia (BI). Sementara itu, pembayaran real-time A2A melonjak lebih tinggi, yakni 37 persen yoy menjadi Rp12.000 triliun.

Namun, ekspansi agresif ini juga membuka celah risiko. Data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, lebih dari 400.000 laporan penipuan online tercatat dalam setahun terakhir, dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun. Kondisi ini menegaskan bahwa kecepatan inovasi harus diimbangi dengan penguatan fondasi kepercayaan.

Kejahatan Siber Berevolusi

Wawasan global Visa menunjukkan bahwa kejahatan siber kini berevolusi dengan skala industri. Jaringan kriminal memanfaatkan botnet, skrip otomatis, hingga alat berbasis AI untuk melancarkan serangan simultan. Lonjakan penyebutan AI Agent hingga 477 persen menandai pesatnya perkembangan rekayasa sosial berbasis AI, ekstraksi data otomatis, serta kapabilitas serangan yang semakin canggih.

“Visa berkomitmen memastikan kemajuan digital Indonesia dibangun di atas fondasi kepercayaan. Dengan membawa wawasan global dan kapabilitas keamanan canggih kepada para mitra lokal, kami membantu menghadirkan pengalaman pembayaran yang lebih aman dan seamless,” ujar Vira Widiyasari, Country Manager Visa Indonesia dikutip 3 Februari 2026.

Senada, Abdul Rahim, Head of Risk Regional Southeast Asia Visa, menilai Indonesia sebagai salah satu pasar pembayaran digital paling dinamis di Asia Pasifik.

“Ketika inovasi berkembang begitu cepat, kita harus selangkah lebih maju dari ancaman, termasuk yang didorong oleh AI. Kolaborasi dan keamanan yang kuat menjadi kunci agar ekonomi digital tumbuh berkelanjutan,” tegasnya.

Baca juga: Ancaman Siber Pengguna Andorid Meningkat, Aplikasi PINTU Sarankan Ini

Visa juga menyoroti pentingnya integrasi intelijen global dengan kemitraan lokal. Nitia, Head of Risk Visa Indonesia, menambahkan bahwa kapabilitas seperti deteksi risiko berbasis AI, tokenisasi, autentikasi modern, hingga program Visa Scam Disruption memungkinkan ancaman terdeteksi lebih awal sebelum berdampak luas pada konsumen dan pelaku usaha.

“Salah satu contohnya adalah program Visa Scam Disruption, yang memanfaatkan intelijen global untuk mengidentifikasi dan membongkar jaringan penipuan sebelum mencapai skala besar,” jelasnya.

Selaras dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025, Visa menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk mendukung ekosistem pembayaran nasional yang aman, interoperabel, dan siap menghadapi risiko masa depan, termasuk gelombang ancaman baru yang lahir dari pemanfaatan AI Agent. (*)

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Pemerintah Efisiensi Anggaran K/L, MBG dan KDMP Tetap Jalan Meski Risiko Perang AS-Iran

Poin Penting Program prioritas MBG dan KDMP tetap berjalan tanpa pemangkasan anggaran. Efisiensi dialihkan ke… Read More

35 seconds ago

Libur Bursa 2026: BEI Tutup Perdagangan 18-24 Maret saat Nyepi dan Idul Fitri

Poin Penting BEI menetapkan libur bursa selama lima hari kerja pada 18–24 Maret 2026 terkait… Read More

10 mins ago

Investor Kripto Harus Simak, Ini 5 Strategi Wajib Hadapi Bear Market

Poin Penting Investor berpengalaman melihat penurunan harga aset kripto sebagai kesempatan membeli aset undervalued, terutama… Read More

15 mins ago

Pengaruh Perang Iran terhadap Politik Pemilihan Legislatif Sela AS

Oleh Mahendra Siregar, Pengamat Geopolitik SEPANJANG sejarah 100 tahun terakhir, Amerika Serikat (AS) tidak pernah… Read More

22 mins ago

Bank Raya Paparkan Kinerja 2025, Transformasi Bank Digital Kian Menguat

Poin Penting PT Bank Raya Indonesia Tbk mencatat penyaluran kredit digital Rp28,75 triliun pada 2025… Read More

1 hour ago

Renovasi Atap Panti Asuhan di Serang, Tugure Tegaskan Komitmen CSR Berkelanjutan

Poin Penting Tugure merenovasi atap Panti Asuhan Al Arif di Serang yang sebelumnya rusak dan… Read More

2 hours ago