Country Manager Palo Alto Networks, Adi Rusli, di acara Roundtable Media Virtus Indonesia, Rabu, 1 Oktober 2025. (Foto: M. Adrianto Sukarso)
Poin Penting
Jakarta – Country Manager Palo Alto Networks, Adi Rusli, mengungkapkan dampak negatif artificial intelligence (AI) terhadap bisnis di Indonesia. Menurutnya, pelaku usaha kini menghadapi ancaman siber yang semakin berbahaya seiring adopsi AI oleh pelaku kejahatan.
Survei McKinsey menunjukkan, total kerugian akibat serangan siber dapat mencapai USD10,5 triliun. Karena itu, rata-rata perusahaan kini mengalokasikan 6–10 persen anggaran teknologi informasi (TI) untuk keamanan siber.
“Dan dari mereka pula, kira-kira total addressable market buat para pelaku industri di dunia siber seperti kami, itu potensinya mencapai USD2 triliun.” imbuhnya di acara Roundtable Media Virtus Indonesia pada Rabu, 1 Oktober 2025.
Baca juga: Synology Ungkap Strategi Ketahanan Siber untuk Perkuat Data Industri Keuangan
Kemampuan aktor jahat mengembangkan ransomware kini jauh lebih singkat. Dengan AI, proses pembuatan hingga peretasan sistem keamanan perusahaan hanya memakan waktu sekitar 25 menit.
“(Sekarang), mereka bisa membangun ransomware, kemudian penetrate ke suatu sistem, masuk, menyerang, sampai dia keluar curi datanya, itu hanya membutuhkan waktu 25 menit,” ungkap Adi.
AI juga mempercepat fase eksploitasi sistem yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari, kini bisa kurang dari sejam. Bahkan, pencurian data yang dahulu memakan waktu berhari-hari, kini dapat terjadi hanya dalam hitungan menit.
Lebih parah lagi, Adi menyebut, 25 persen serangan siber berujung pada pencurian data dalam waktu kurang dari 5 jam, sementara banyak organisasi baru mendeteksi dan merespons setelah berhari-hari.
Lebih lanjut, Adi mengungkapkan, faktor manusia masih menjadi pintu masuk terbesar. Sekitar 40 persen insiden disebabkan kelalaian atau kesalahan pengguna, dengan mayoritas aktivitas kerja saat ini berlangsung melalui browser.
“Biasanya, (serangan) masuk dari browser, karena kita semua berinteraksi dengan aplikasi, ataupun dengan web yang menyediakan data dan informasi melalui browser. Hampir 90 persen pekerjaan kita dilakukan di browser sekarang ini,” paparnya.
Baca juga: Ancaman Ransomware Kian Marak, Synology Kasih Solusi Cegah Kebocoran Data
Untuk menghadapi ancaman yang diperkuat AI, Adi menyebut perusahaan harus fokus pada dua hal. Pertama, perusahaan perlu pengamanan sejak tahapan paling awal.
Kedua, penting juga untuk otomatisasi operasi keamanan agar deteksi dan respons bisa secepat serangan itu sendiri. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Harga emas di Pegadaian pada 10 April 2026 kompak turun untuk tiga produk:… Read More
Poin Penting IHSG diprediksi melanjutkan penguatan pada awal pekan, dengan level support 7.084–7.191 dan resistance… Read More
Poin Penting Pemkab Serang resmi memindahkan RKUD ke Bank Banten, ditandai penandatanganan PKS pada 9… Read More
Bank Muamalat Indonesia mencatat kinerja yang solid untuk layanan cash management system bernama Muamalat Digital… Read More
Poin Penting BTN telah menyalurkan KUR Rp2,72 triliun hingga Maret 2026, didominasi KUR kecil (75%)… Read More
Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More