Moneter dan Fiskal

Waspada Disrupsi Beras di Tahun Politik

Jakarta –  Menjelang tahun politik kestabilan harga pangan sangat rentan yang akan menimbulkan risiko disrupsi ekonomi pangan domestik, khususnya pada komoditas beras. Ekonom Senior INDEF Bustanul Arifin mengatakan, harga beras terus menerus naik, berdasarkan data dari PIHPS Bank Indonesia per Februari 2023 harga beras sebesar Rp13.200.

“Khusus harga beras per kemarin (Februari) memang masih belum turun sebesar Rp13.200 untuk harga eceran dan Rp13.050 untuk beras medium II per kilonya,” ujar Bustanul dalam Diskusi Publik, Kamis, 2 maret 2023.

Dia menyatakan, permasalahannya ini merupakan tahun pemilu, dimana biasanya harga beras tinggi lebih sensitif dibandingkan dengan harga gabah rendah. Data dari BPS, panen raya terjadi di bulan Maret 2023 dengan perkiraan produksi beras sebanyak 5,27 juta ton dengan luas panen padi 1,71 juta hektar dan pada April diperkirakan akan turun menjadi 3,51 juta ton dengan luas panen padi 1,15 juta hektar.

“Persoalan disini masalahnya ini tahun pemilu biasanya harga beras tinggi lebih sensitif dibandingkan dengan harga gabah rendah. Petani mungkin bisa marah kalau panen harganya anjlok. Mungkin menjadi heboh dari akhir tahun kemarin karena kalau memang ada surplus dimana? yaitu dipegang rumah tangga 68%, bulog 11,4%, pedagang 10,7%, sisanya RMU dan horeka,” jelasnya.

Dia melanjutkan, memang pada akhir Februari 2023 stok di bulog rendah, untuk itu pemerintah memutuskan untuk mengimpor beras. Total pengadaan beras tahun 2022 sebesar 993.989 ton dan pada tahun 2023 sampai dengan Februari sebanyak 475.204 ton.

“Kalau total pengadaan beras 2022 memang rendah jadi bulog beli gabah petani itu sedikit, ini salah satu alasan kenapa di bulog stoknya rendah, ya karena memang tidak mampu beli karena harganya ketinggian,” ungkapnya.

Untuk itu, Bustanul perlu adanya revisi HPP (Harga Pembelian Pemerintah) gabah. Sepanjang 2022 harga gabah dan beras rata-rata diatas HPP, yaitu pada Desember GKP (gabah kering panen) sebesar 5.747/kg dan Rp6.278/kg untuk GKG (gabah kering giling), dengan HPP masing-masing sebesar Rp5.250/kg dan Rp4.250/kg.

“Harga gabah dan beras rata-rata diatas dan sekarang sudah sangat tinggi dari HPP sehingga perlu dinaikan,” katanya. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Irawati

Recent Posts

Penguatan Produktivitas Indospring Disambut Positif Investor, Ini Buktinya

Poin Penting INDS memperkuat produktivitas dan efisiensi melalui pembelian aset operasional dari entitas anak senilai… Read More

10 mins ago

KB Bank Kucurkan Kredit Sindikasi USD95,92 Juta ke Petro Oxo Nusantara

Poin Penting KB Bank salurkan kredit sindikasi USD95,92 juta untuk mendukung pengembangan PT Petro Oxo… Read More

21 mins ago

Lampaui Target, Realisasi Investasi 2025 Tembus Rp1.931,2 Triliun

Poin Penting Realisasi investasi 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen (yoy) dan melampaui target… Read More

27 mins ago

OJK Luncurkan Aturan Baru Asuransi Kesehatan, Ini Isinya

Poin Penting OJK menerbitkan POJK 36/2025 untuk memperkuat ekosistem asuransi kesehatan, menjaga keseimbangan manfaat bagi… Read More

28 mins ago

Ikuti Jejak Sang Induk, BRI Finance Kini Punya Logo Baru

Poin Penting BRI Finance resmi mengganti logo pada 13 Januari 2026 sebagai bagian dari penyesuaian… Read More

48 mins ago

Target Zero Case 2026 Tercoreng, DPR Soroti Keracunan Menu MBG

Poin Penting Kasus keracunan menu MBG kembali terjadi di sejumlah daerah, meski BGN menargetkan zero… Read More

2 hours ago