Jakarta – Perekonomian dunia saat ini diyakini tengah masuk dalam fase rekonstruksi dengan sejumlah tantangan yang menghadang, seperti krisis perubahan iklim, instabilitas politik hingga gejolak harga komoditas.
Guna memitigasi berbagai risiko tersebut, Indonesia dinilai memiliki kekuatan yang sangat besar dan dapat diandalkan, yaitu geliat industri perekonomian dan keuangan syariah.
“Kinerja ekonomi dan keuangan syariah terbukti mampu membawa perekonomian nasional lebih tahan terhadap tekanan pandemi Covid-19. Kontribusinya cukup besar, hingga lebih dari 25% terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan,” ujar Walres Ma’ruf Amin, dalam Talkshow ‘Peluang dan Tantangan Ekonomi Syariah Untuk Mewujudkan Indonesia Sebagai Pusat Produsen Halal Terkemuka Dunia’ yang digelar Infobank bersama KNEKS, 14 April 2022.
Kontribusi tersebut, menurut Ma’ruf, terutama didapat dari kinerja sektor pertanian syariah sebesar 51 persen, industri makanan halal sebesar 27 persen, pariwisata ramah muslim sebesar enam persen dan fashion muslim sebesar enam persen.
Karenanya, dengan segala potensi yang sangat besar ini, Ma’ruf mengajak seluruh pihak untuk ikut berperan dalam mendorong tumbuh kembang industri keuangan syariah nasional. Terutama dalam menciptakan ekosistem industri produk halal di Indonesia, tidak hanya di level pusat, namun juga hingga ke seluruh wilayah Tanah Air.
“Peran serta para kepala daerah, para gubernur, bupati hingga walikota, sangat diperlukan untuk menghidupkan industri halal di wilayahnya masing-masing. Bagaimana kemudian ini bukan hanya program pemerintah pusat, namun gerakan ekonomi syariah milik kita semua, dari pusat hingga ke daerah,” ungkap Ma’ruf.
Bila geliat industri halal di daerah ini sudah mulai bisa dirintis, lanjut Maruf, maka giliran kontribusi dari industri pembiayaan dan jasa keuangan lainnya, yang diharapkan bisa turut menopang kuat kinerja para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di industri halal ini.
“Lembaga jasa keuangan juga punya peluang besar untuk turut hadir dengan menopang kinerja para pelaku usaha kecil ini dari segi pembiayaan. Terakhir, faktor yang tidak bisa kita lupakan juga adalah terkait digitalisasi, agar gerakan-gerakan terkecil di daerah ini bahkan ikut bisa tumbuh dan merangsek masuk ke pasar nasional, bahkan dunia internasional, dengan dukungan dari semua pihak,” tegas Maruf. (*) TSA
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More
Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More
Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More
Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More
Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More