Poin Penting
- Wamendiktisaintek, Stella Christie, menekankan adopsi AI harus diawali dengan pemahaman masalah bisnis yang ingin diselesaikan.
- Perusahaan perlu menyiapkan strategi dan infrastruktur sejak dini agar tidak terlambat memanfaatkan AI.
- SDM dan konsep human in the loop menjadi kunci keberhasilan implementasi AI yang berkelanjutan.
Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, memaparkan empat langkah penting bagi pelaku usaha yang ingin mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam operasional bisnis.
Menurutnya, keberhasilan implementasi AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia (SDM) serta kemampuan perusahaan mengidentifikasi kebutuhan bisnis secara tepat.
“Jadi untuk siap adopsi AI, ada empat langkah. Dan ini basic yakni What, When, Who, and Who,” ujar Stella dalam acara Grab Business Forum, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menjelaskan, langkah pertama yang harus dilakukan yakni memahami secara jelas permasalahan (what) yang ingin diselesaikan menggunakan teknologi AI.
Sebab, setiap perusahaan akan memiliki kebutuhan berbeda sehingga penerapan AI tak bisa disamaratakan satu sama lain.
Baca juga: Adopsi AI dan Ancaman Siber Makin Kompleks, Synology Sebut Faktor Ini jadi Tantangan Utama
Contohnya, pada sektor logistik yang mungkin hanya memiliki satu tujuan utama, sementara sektor lain bisa memiliki berbagai tujuan serta kompleksitas berbeda
“Apakah itu with just one goal, logistik is just one goal. Tapi mungkin ada logistik bidang lain yang lebih banyak goals-nya,” jelasnya.
Waktu yang Tepat untuk Adopsi
Lebih lanjut, pada langkah kedua yakni menentukan waktu (when) yang tepat untuk mengadopsi AI. Stella menilai perusahaan perlu melakukan persiapan sejak dini agar siap memanfaatkan teknologi tersebut ketika solusi yang sesuai sudah tersedia dan terjangkau.
“Jangan terlambat kalau mau menjadi business leader. Mungkin sekarang AI-nya belum, tapi apa yang harus dipersiapkan untuk begitu ada AI yang bisa menyelesaikan itu sudah siap adopsi,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlambatan dalam menyiapkan infrastruktur maupun strategi implementasi dapat membuat perusahaan membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh manfaat dari AI.
SDM Menjadi Faktor Penentu
Stella menjelaskan, langkah ketiga dan keempat sama-sama berfokus pada aspek manusia (who). Menurutnya, SDM tetap menjadi faktor paling krusial dalam transformasi digital berbasis AI.
Baca juga: Perusahaan Mulai Masuk Fase AI Enterprise, Cloudera Ingatkan Pentingnya Fondasi Data
“Karena apa pun dan kapan pun mengadopsi AI, itu harus ada orangnya yang tahu apa yang diadopsi, AI yang seperti apa, dan kapan mengadopsinya. Jadi, tetap yang paling penting adalah harus bisa mengultivasikan orang-orang di perusahaannya yang bisa mengimplementasikan step satu dan step dua,” bebernya.
Human in the Loop Tetap Dibutuhkan
Langkah keempat kata dia adalah menerapkan konsep human in the loop, yakni memastikan manusia tetap terlibat dalam proses evaluasi hasil yang dihasilkan AI.
Ia menilai, meski teknologi AI mampu membantu pelbagai proses bisnis, namun keputusan akhir dan evaluasi tetap harus dilakukan oleh manusia untuk meminimalkan risiko kesalahan.
“Yang paling utama adalah apakah perusahaan memiliki orang yang mampu mengevaluasi output dari AI. Apa pun hasil yang diberikan AI harus tetap bisa diperiksa dan divalidasi oleh manusia,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan implementasi AI tidak berarti menghilangkan kebutuhan terhadap tenaga kerja.
“Jangan memecat orangnya setelah AI diterapkan. Justru mereka tetap dibutuhkan untuk terus mengevaluasi, memperbaiki, dan mengoptimalkan penggunaan AI di perusahaan,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


