News Update

Untuk Tekan Resesi, Pemerintah Harus Percepat BLT

Jakarta – Ekonomi Indonesia hampir bisa dipastikan akan memasuki resesi pada awal Oktober 2020. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal III 2020 diprediksi akan kembali mengalami kontraksi seperti kuartal II yang minus 5,32%. Bantuan langsung tunai (BLT) menjadi pilihan utama untuk menekan penurunan agar tidak semakin dalam.

“Siklus PDB kita sedang turun. Pandemi Covid-19 membuat penurunan semakin dalam. But is everything goes done. Semua yang turun pada saatnya akan naik. Persoalannya, berapa lama,” ujar Hermanto Siregar, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam diskusi publik “Ancaman Resesi Sudah di Depan Mata, Siapkan Kita?” yang diselenggaran Balitbang DPP Partai Demokrat secara daring di Jakarta, Minggu, 30 Agustus 2020.

Jika penurunan pertumbuhan PDB terlalu dalam, menurut Hermanto, naiknya akan semakin lama dan berat. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan upaya-upaya extra ordinary untuk menekan penurunan agar tidak semakin dalam. Salah satu upaya mendesak yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan mempercepat realisasi pencairan BLT.

“Itu prioritas, karena sektor konsumsi yang memberikan kontribusi terbesar pada PDB mengalami penurunan paling dalam. Dengan memberikan BLT, masyarakat akan kembali bisa spending, dan memberikan multiplier effect pada perekonomian,” paparnya.

Di sisi lain, karena penyebab resesi terutama karena dampak pendemi Covid-19, antara penyelesaian masalah ekonomi dan penanggulangan pandemi harus balance. “Dalam catatan Infobank Institute, dari 10 negara yang saat ini sudah terkena resesi, sebagian besar menerapkan kebijakan lock down,” ujar Darto Wiryosukarto, Managing Editor Infobank, di acara yang sama.

Indonesia yang menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kata Darto, cukup beruntung karena masih memberi ruang untuk pertumbuhan ekonomi, sektor usaha masih tetap berjalan meski dengan pembatasan-pembatasan.

“Meski Indonesia lebih baik dibanding 10 negara yang sudah terkena resesi, namun untuk struktur ekonomi tidak cukup hanya ditopang ekonomi dalam negeri saja. Perlu pertumbuhan ekonomi di atas 5% agar pengangguran tidak bertambah,” ujar Darto.

Namun untuk saat ini, kata dia, satu-satunya jalan yang mendesak untuk dilakukan pemerintah adalah mempercepat bantuan ke masyarakat miskin terdampak. “Rakyat perlu diguyur bantuan agar bisa belanja, sehingga ekonomi tidak lebih parah,” tegasnya. (*)

Dwitya Putra

Recent Posts

Trump Deklarasi Perang Besar di Iran, Ini Potensi Dampaknya ke Ekonomi RI

Poin Penting Konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dari sekitar USD73 hingga berpotensi USD120-140… Read More

12 hours ago

SMF Sebut Pendanaan Rumah Subsidi Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Poin Penting SMF memastikan pendanaan rumah subsidi dan FLPP tetap terjaga dan berkelanjutan meski ekonomi… Read More

12 hours ago

Istana Bantah Anggaran Pendidikan Dipangkas karena Program MBG

Poin Penting Istana memastikan anggaran pendidikan tidak dipangkas meski program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan.… Read More

12 hours ago

Kabar Baik untuk Guru Honorer, Insentif Naik dan Tunjangan Non-ASN Tembus Rp2 Juta

Poin Penting Insentif guru honorer naik menjadi Rp400.000, pertama kali meningkat sejak program berjalan sejak… Read More

12 hours ago

Industri BPD Didorong Adopsi Agentic AI untuk Akselerasi Transformasi Digital

Poin Penting Industri BPD didorong mengadopsi agentic AI untuk meningkatkan efisiensi, keamanan siber, kepatuhan, dan… Read More

13 hours ago

PLN Beri Diskon 50 Persen Tambah Daya Lewat PLN Mobile Selama Ramadan 2026

Poin Penting PLN beri diskon 50% tambah daya listrik via PLN Mobile selama 25 Februari–10… Read More

14 hours ago