Moneter dan Fiskal

Tumbuh Melambat, Uang Beredar Indonesia Capai Rp9.210,8 Triliun pada Akhir 2024

Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan jumlah uang beredar (M2) pada Desember 2024 mencapai Rp9.210,8 triliun, dengan pertumbuhan melambat sebesar 4,4 persen year on year (yoy), dibandingkan pertumbuhan 6,5 persen yoy pada bulan sebelumnya.

Menurut BI, perlambatan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan komponen uang beredar sempit (M1) sebesar 5,8 persen yoy, serta uang kuasi yang hanya tumbuh 0,3 persen yoy.

Secara rinci, M1 yang memiliki pangsa 56,7 persen dari total M2, tercatat sebesar Rp5.223,9 triliun pada Desember 2024, tumbuh 5,8 persen yoy setelah mencatat pertumbuhan 9,1 persen yoy pada November 2024.

Baca juga: BI Catat Uang Beredar Tembus Rp1.204 Triliun Sepanjang 2024, Ini Rinciannya

“Perkembangan M1 terutama disebabkan oleh perkembangan uang kartal di luar bank umum dan BPR, serta giro rupiah,” ujar Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Kamis, 23 Januari 2025.

Komponen Uang Beredar

Adapun uang kartal yang beredar di masyarakat pada Desember 2024 tercatat sebesar Rp1.062,7 triliun, dengan pertumbuhan 8,9 persen yoy, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 12,2 persen yoy pada bulan sebelumnya. Sementara giro rupiah mencapai Rp1.776,7 triliun, tumbuh 4,6 persen yoy, melambat dari pertumbuhan 12,5 persen yoy pada November 2024.

“Serta, tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu dengan pangsa 45,6 persen terhadap M1, tercatat sebesar Rp2.384,4 triliun pada Desember 2024 atau tumbuh sebesar 5,5 persen yoy, relatif stabil dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya,” tambah Dennny.

Baca juga: Fokus Efisiensi, Presiden Prabowo Pangkas Uang Perjalanan Dinas: Bisa Hemat Rp20 Triliun

Di sisi lain, uang kuasi yang memiliki pangsa 42,0 persen dari M2 tercatat sebesar Rp3.872,7 triliun, tumbuh hanya 0,3 persen yoy, setelah mencatat pertumbuhan 1,3 persen yoy pada November 2024.

Komponen uang kuasi menunjukkan simpanan berjangka tumbuh 1,6 persen yoy, sementara tabungan lainnya dan giro valas mengalami kontraksi masing-masing sebesar 0,1 persen yoy dan 4,9 persen yoy.

Faktor Pendorong Perkembangan M2

Perkembangan M2 pada Desember 2024 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus). Penyaluran kredit tumbuh 9,1 persen yoy, lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 10,1 persen yoy pada bulan sebelumnya.

“Tagihan bersih sistem moneter kepada Pempus pada Desember 2024 terkontraksi sebesar 17,4 persen yoy, setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 1,1 persen yoy,” paparnya.

Sementara itu, aktiva luar negeri bersih mencatat pertumbuhan 0,8 persen yoy pada Desember 2024, relatif stabil dibandingkan pertumbuhan 1,0 persen yoy pada bulan sebelumnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

Permata Bank Mulai Kembangkan Produk Paylater

Poin Penting Permata Bank mulai mengkaji pengembangan produk BNPL/paylater, seiring kebijakan terbaru regulator, namun belum… Read More

18 mins ago

Purbaya Ancam Stop Anggaran Kementerian/Lembaga dan Pemda yang Lambat Belanja

Poin Penting Purbaya menilai lambatnya penyerapan anggaran K/L dan Pemda merupakan masalah klasik yang terjadi… Read More

1 hour ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak 33 Kali Lipat di 2025

Poin Penting Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat pada 2025, mencapai… Read More

3 hours ago

IHSG Ditutup Naik Hampir 1 Persen ke Posisi 9.032

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,94 persen ke level 9.032,58 dan sempat menyentuh All Time… Read More

3 hours ago

Purbaya Bakal Sikat 40 Perusahaan Baja China-Indonesia yang Diduga Mengemplang Pajak

Poin Penting Menkeu Purbaya temukan 40 perusahaan baja asal China dan Indonesia yang diduga mengemplang… Read More

4 hours ago

Permata Bank Bidik Pertumbuhan Kartu Kredit 20 Persen dari Travel Fair 2026

Poin Penting Permata Bank menargetkan pertumbuhan transaksi kartu kredit 20% lewat Travel Fair 2026 bersama… Read More

4 hours ago