Manajemen BTN; Kinerja positif. (Foto: Paulus Yoga)
Jakarta–PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp1,85 triliun sepanjang 2015, tumbuh 62% dari Rp1,14 triliun pada 2014. Raihan laba ditopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang sebesar 25,14% menjadi Rp6,87 triliun.
Direktur Utama BTN, Maryono mengatakan, bahwa pertumbuhan bisnis perseroan yang di atas industri perbankan mampu menopang raihan laba tahun lalu. Sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) turun ke level 3,42% (gross).
“Kami berhasil menekan NPL dibawah 4% sesuai dengan target akhir tahun 2015, melalui perbaikan-perbaikan manajemen penagihan,” imbuhnya di Menara BTN, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2016.
Dari sisi perkreditan, mengalami pertumbuhan 19,88% secara setahunan dari Rp115,91 triliun menjadi Rp139 triliun. Pertumbuhan kredit BTN ini berada di atas rata-rata industri perbankan nasional yang berada hanya pada kisaran 9,85%.
Sementara dana pihak ketiga (DPK) perseroan yang mencapai Rp128 triliun pada 2015, tumbuh 19,97% dari periode sebelumnya sebesar Rp106,7 triliun. Pertumbuhan DPK BTN di atas industri yang hanya di kisaran 7,70%.
Demikian total Aset perseroan tumbuh sebesar 18,83% dari Rp144,6 triliun pada 2014 menjadi Rp172 triliun pada akhir 2015.
Adapun rasio keuangan lainnya tercatat NIM sebesar 4,87%, ROE dan ROA masing-masing sebesar 16,84% dan 1,61%. (*) Dwitya Putra
Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More
PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More
Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More