Ekonomi dan Bisnis

Tumbuh 4,8 Persen, Laba Anak Usaha Telkom Ini Tembus Rp2,11 Triliun di 2024

Jakarta – Anak perusahaan PT Telkom Indonesia, yakni PT Mitradaya Telekomunikasi atau Mitratel menutup tahun 2024 dengan capaian positif. Perseroan mampu mencatatkan laba bersih Rp2,11 triliun, naik 4,8 persen ketimbang tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp2,01 triliun.

Theodorus Ardi Hartoko, Direktur Utama Mitratel, menjelaskan pertumbuhan laba Mitratel ini disebabkan karena performa apik lini bisnis utama perusahaan di bidang tower telekomunikasi.

“Pertumbuhan yang positif tersebut didorong dari kegiatan kami selama 2024, utamanya terhadap bisnis utama kita di bisnis tower melalui penyewaan tower dan kolokasi,” ujar Ardi di acara public expose Mitratel pada Rabu, 28 Mei 2025.

Baca juga: RUPST Mitratel: Tebar Dividen Tunai Rp1,47 Triliun dan Rombak Jajaran Komisaris

Merujuk laporan keuangan perseroan, pendapatan dari sewa menara dan fiber optik Mitratel mengalami peningkatan 7,6 persen menjadi Rp8,67 triliun. Angka ini menyumbang 93,2 persen dari total pendapatan perseroan, yakni sebesar Rp9,31 triliun. Total pendapatan perseroan juga tercatat mengalami pertumbuhan 7,2 persen.

Di sisi lain, Mitratel juga menjaga rasio keuangan dengan sehat. Ini tercermin dari rasio lancar (current ratio) berada di level 28,1 persen. Kemudian, margin EBITDA menyentuh 82,7 persen. Sedangkan return of asset (ROA) dan return of equity (ROE) masing-masing di level juga 3,6 persen dan 6,3 persen.

Strategi Bisnis Mitratel 2025

Pada tahun ini, Mitratel memproyeksi perolehan laba industri tower akan tumbuh 1,8 persen. Meskipun demikian, akan ada tantangan dari sisi ekonomi makro, seperti tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan perang dagang antara AS serta Tiongkok.

Hal ini dinilai akan memengaruhi suku bunga acuan. Untuk mengantisipasi hal ini, perseroan akan mengubah komposisi pinjaman fix dan pinjaman floating, untuk tetap mendapatkan untung dari potensi perubahan suku bunga.

“Kami masih mengantisipasi adanya penurunan suku bunga di 2025 ini. Dengan komposisi floating yang kami bikin sekarang, kami bisa mendapatkan benefit apabila nanti ada penurunan suku bunga di tahun 2025,” kata Hendra Purnama, Direktur Investasi Mitratel.

Baca juga: Telkom Tunjuk Dian Siswarini Jadi Dirut, Ini Susunan Direksi Lengkapnya

Lebih lanjut, Mitratel juga sudah menyiapkan capital expenditure (CAPEX) sebesar Rp5,3 triliun untuk ekspansi perusahaan di 2025. Hendra berujar, CAPEX ini digunakn untuk menambah panjang serat fiber dan jumlah tenant.

Terhitung pada penghujung 2024, jumlah tenant perseroan berada di angka 59.868. Sementara, jaringan serat fiber sudah sepanjang 51.039 kilometer.

“Rencana CAPEX sebesar Rp5,3 triliun (digunakan untuk) penambahan tenant. Kami targetkan di tahun ini (bertambah) sebesar 2.500 tenant, serta penambahan kabel fiber optic sepanjang 10 ribu kilometer,” jelas Hendra. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Recent Posts

Ombudsman Dukung Bank Jambi Tingkatkan Layanan Digital dan Perlindungan Nasabah

Poin Penting Ombudsman dorong Bank Jambi segera memulihkan layanan digital demi kenyamanan dan keamanan seluruh… Read More

16 mins ago

Realisasi Belanja Pemerintah Pusat Tembus Rp131,9 Triliun per Januari 2026

Poin Penting Hingga Januari 2026, realisasi belanja pemerintah pusat capai Rp131,9 triliun, melonjak 53,3 persen… Read More

25 mins ago

Implementasi Perpres 4/2026 dan Keterkaitannya dengan Pembiayaan Perbankan

Oleh Hendra Febri, S.H., M.H, Praktisi Hukum, Banker, dan Lawyer PADA 4 Februari 2026, Pemerintah… Read More

43 mins ago

Pendanaan Pinjol Melonjak Jelang Lebaran, Masyarakat Diminta Hidup Sesuai Kemampuan

Poin Penting Pinjol melonjak jelang Lebaran 2026, didorong kebutuhan konsumtif dan faktor psikologis seperti FOMO,… Read More

58 mins ago

Penerimaan Pajak Januari 2026 Tumbuh 30,7 Persen, Ini Penopangnya

Poin Penting Pajak Januari 2026 Rp116,2 triliun, naik 30,7 persen yoy (4,9 persen dari pagu… Read More

1 hour ago

APBN Januari 2026 Defisit Rp54,6 Triliun, Purbaya Klaim Masih Terkendali

Poin Penting APBN awal 2026 defisit Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap PDB, dinilai masih… Read More

1 hour ago