Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group. (Foto: Dok. Infobank)
Oleh Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank
JADI bankir Bank Pembangunan Daerah (BPD) itu tak cukup hanya pintar, tapi harus pintar-pintar. Nasibnya tak menentu. Rapat biasa soal kinerja bisa saja berujung pada pencopotan. Tapi, kalau “pintar-pintar” bisa sampai tiga periode. Kinerja bukan lagi sebuah ukuran untuk terus bisa duduk di kursi direksi. Nasib bank selanjutnya seperti tak dihiraukan.
Semua tergantung pemegang saham. Hari-hari ini sering terdengar pencopotan direksi BPD secara mendadak. Sebut saja di Bank Sumut yang secara mendadak mencopot Rahmat F. Pohan sebagai Dirut Bank Sumut.
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More
View Comments
Setuju sekali. Imbas warisan nenek moyang bukan hanya terasa pada direksi. PD karyawan yg notabene bekerja mati Matian membuat prestasi tertindas dn kalah oleh kepentingan karyawan yg menggunakan nama pejabat Pemda. Kelompok kelompok yg membawa nama pejabat menjadi dominan sehingga manajemen BPD dikategorikan perusahaan berbasis KKN. Bubarkan SJ masih banyak bank pemerintah yg LBH solid utk dipertahankan yg TDK menimbulkan kezoliman akut.