Moneter dan Fiskal

Triwulan I, Stabilitas Sistem Keuangan Baik dan Terkendali

Jakarta–Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan di triwulan pertama 2016 ini dalam keadaan baik dan terkendali.

Hal ini berdasarkan hail pengamatan dan assesment empat lembaga anggota KSSK yaitu Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Stabilitas sistem keuangan didukung oleh meredanya ketidakpastian perekonomian global dan perkembangan ekonomi domestik yang positif. Kendati demikian Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengungkapkan masih ada risiko yang perlu diwaspadai oleh Indonesia.

“Masing-masing juga berpendapat selain kondisi relatif baik kami tetap waspadai risiko yang mungkin muncul,” kata Bambang usai rapat perdana KSSK, forum yang terbentuk sesuai amanat Undang-Undang No. 9 tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK).

Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo menambahkan, salah satu risiko yang diwaspadai adalah derasnya aliran modal asing yang memiliki risiko jika terjadi arus pembalikan modal (capital reversal). Selain itu, Bank Sentral juga terus mengawasi implementasi aturan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang luar negeri korporasi.

“Tapi kemajuan indikator ekonomi Indonesia dengan inflasi dan Current Account Deficit terkendali dan kepastian ekonomi stabil kami lihat ini bisa dikendalikan dengan baik. Dan kami lihat risiko Utang Luar Negeri Swasta, BI sudah keluarkan aturan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang korporasi, monitoring 2015 menunjukan kondisi yang semakin terkendali dan tidak ada risiko yang jadi perhatian lebih,” kata Agus dalam kesempatan yang sama.

Sementara Ketua OJK Muliaman D. Hadad mengatakan, risiko yang diawasi oleh OJK adalah pelambatan pertumbuhan kredit bank. Kendati melambat pada triwulan pertama ini, OJK terus memantau agar pertumbuhan kredit sesuai dengan Rencana Bisnis Bank yang telah diserahkan pada OJK.

“Kami terus fokus memantaunya karena sesuai rencana bisnis yang disampaikan ke OJK, bank belum mengubah target masih 13% kredit,” kata Muliaman.

Turunnya pertumbuhan kredit diyakini masih sesuai siklus tahunan dimana pertumbuhan kredit pada kuartal pertama memang biasanya masih lambat. Ia meyakini, pertumbuhan kredit akan makin membaik seiring pertumbuhan ekonomi. (*)

 

Editor: Paulus Yoga

admin

Recent Posts

Asbisindo Institute–VOCASIA Hadirkan E-Learning untuk Perkuat Kompetensi Bankir Syariah

Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More

2 hours ago

Penyelundupan BBM Subsidi Marak, DPR Desak Pengawasan Diperketat

Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More

7 hours ago

Grab Luncurkan 13 Fitur Baru Berbasis AI, Apa Saja?

Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More

7 hours ago

Indonesia SIPF Siapkan Consultation Paper, Ini Tujuannya

Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More

7 hours ago

BI Sinyalkan Ruang Penurunan BI Rate Kian Sempit, Dampak Konflik Timur Tengah

Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More

7 hours ago

Lo Kheng Hong Borong Saham Intiland dan Gajah Tunggal, Ini Profilnya

Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More

8 hours ago