Ilustrasi: Investasi asing/istimewa
Jakarta– Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia (BKPM) Thomas Lembong optimis realisasi investasi akan menggeliat pada tahun ini terutama pada semester kedua tahun 2019.
Lembong menilai, tren melambatnya suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjadi penopang terus tumbuhnya angka investasi.
“Second half ekonomi AS akan meningkat, karena jumlah pekerjaan di AS naik. Selain itu The Fed juga akan delay suku bunganya, kalau ekonomi AS rebound, kenaikan suku bunga akan dikaji lagi,” kata Lembong di Kantor BKPM Jakarta, Rabu 6 Febuari 2019.
Selain itu piahknya juga terus malakukan terobosan dan inovasi baru guna terus mendorong tumbuhnya angka investasi nasional, salah satunya melalui kebijakan fiskal.
Baca juga: Suku Bunga The Fed Diprediksi Stagnan
“Insentif misalnya tadi sampaikan fiskal insentif untuk pelatihan vokasi melatih pekerja kita supaya ketrampilan kemampuannya meningkat seiring dengan industri yang lebih tinggi,” tambah Lembong.
Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah menyampaikan data realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) untuk periode tahun 2018 yang mencapai Rp 721,3 triliun, meningkat sebesar 4,1% dibandingkan tahun 2017. Namun dibandingkan dengan target realisasi investasi RPJMN sebesar Rp 765 trilliun, investasi tahun 2018 hanya tercapai sebesar 94,3%.(*)
Poin Penting Kemnaker masih menyelidiki dugaan PHK sekitar 400 pekerja PT Karunia Alam Segar, produsen… Read More
Poin Penting CIMB Niaga mencatat laba bersih Rp6,93 triliun pada 2025, tumbuh tipis 0,53% secara… Read More
Poin Penting OJK dan Pemerintah Inggris Raya membentuk Kelompok Kerja Pembiayaan Iklimuntuk mempercepat pembiayaan iklim… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 1,04 persen ke level 8.235,26 akibat sentimen negatif dari kebijakan… Read More
Poin Penting: Pikap India Mahindra Scorpio telah diserahkan ke Kopdes Merah Putih di Surabaya dengan… Read More
Poin Penting Investor syariah melakukan 30,6 miliar saham dengan frekuensi 2,7 juta kali pada 2025.… Read More