Ilustrasi - IHSG ditutup merah parah, seluruh sektor terkoreksi, meski transaksi tembus Rp45,5 triliun. (Foto: Istimewa)
Poin Penting:
Jakarta – Isu trading halt IHSG mencuat di tengah tekanan pasar global setelah eskalasi perang Iran versus Amerika Serikat (AS)-Israel memicu gejolak di berbagai bursa saham. Bank Indonesia (BI) menilai koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak lepas dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada sentimen investor global.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Irvan Susandy memastikan pelemahan IHSG merupakan imbas langsung dari konflik yang memanas antara Iran dan koalisi AS-Israel. Kekhawatiran pasar meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat,” ujar Irvan di Jakarta, dikutip Antara, Rabu, 4 Maret 2026.
Baca juga: OJK Imbau Investor Tetap Rasional di Tengah Ketegangan AS-Iran
Isu trading halt IHSG turut menjadi perhatian karena tekanan yang terjadi di pasar domestik bergerak searah dengan bursa kawasan Asia. Bahkan, bursa saham Korea Selatan sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt) setelah indeksnya merosot lebih dari 8 persen dalam satu sesi.
“Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, ASX, dan Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8 persen,” ujar Irvan.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa koreksi IHSG bukan semata faktor domestik, melainkan bagian dari gelombang risk-off global akibat ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi.
Berdasarkan data perdagangan Rabu (4/3) pukul 11.11 WIB, IHSG tercatat melemah 251,47 poin atau 3,17 persen ke level 7.688,29. Penurunan ini memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi volatilitas lanjutan dan kemungkinan trading halt IHSG jika tekanan semakin dalam.
Frekuensi transaksi tercatat 1.843.291 kali dengan volume perdagangan mencapai 30,95 miliar saham senilai Rp15,89 triliun. Sebanyak 66 saham menguat, 703 saham melemah, dan 43 saham stagnan.
Tekanan juga terjadi di sejumlah indeks utama Asia. Indeks Nikkei turun 1.883,40 poin atau 3,35 persen ke 54.395,69. Indeks Shanghai melemah 59,11 poin atau 1,43 persen ke 4.063,57. Indeks Kospi merosot 417,32 poin atau 7,21 persen ke 25.052,00. Indeks Hang Seng turun 717,01 poin atau 2,78 persen ke 25.051,06, sedangkan Strait Times terkoreksi 112,50 poin atau 2,29 persen ke 4.804,14.
Baca juga: IHSG Lanjut Turun 5 Persen Didominasi Faktor Eksternal
BI menilai dinamika ini perlu dicermati karena dampaknya tidak hanya pada pasar keuangan, tetapi juga berpotensi menekan stabilitas harga melalui kenaikan biaya energi global. Meski demikian, otoritas memastikan koordinasi kebijakan terus diperkuat guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian global. (*)
Editor: Yulian Saputra
Jakarta - PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) mengantongi pendapatan Rp1 triliun di sepanjang 2025… Read More
Poin Penting BREN mencatat pendapatan USD605 juta pada 2025, naik 1,4 persen yoy, ditopang kinerja… Read More
Poin Penting Maybank Indonesia memperkuat pembiayaan SME dengan strategi Shariah First, menjadikan segmen syariah sebagai… Read More
Poin Penting OJK menegaskan kebijakan pemrosesan data lintas batas dalam perjanjian dagang RI–AS harus tetap… Read More
Poin Penting Puncak arus balik Lebaran 2026 diprediksi terjadi pada 24, 28, dan 29 Maret,… Read More
Poin Penting PLN siagakan SPKLU untuk mudik Lebaran 2026: Infrastruktur pengisian kendaraan listrik diperkuat, termasuk… Read More