Poin Penting
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang melakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham yang telah dilakukan dua kali setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) longsor hingga 8 persen.
Purbaya mengayakan kondisi ini merupakan guncangan sementara atau jangka pendek yang tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya.
Dia menilai pasar panik tersebut dipicu oleh potensi Indonesia yang mengalami penurunan klasifikasi dari emerging market menjadi frontier market.
“Yang bisa saya pastikan adalah fondasi ekonomi kita nggak bermasalah, akan semakin cepat ke depan. Ini mungkin orang shock akan possibility apa kita pasarnya dianggap pasar apa gitu, frontier level,” ujar Purbaya saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis, 29 Januari 2025.
Baca juga: IHSG Sesi I Masih Ditutup Merah ke Posisi 7.828, Turun 5,91 Persen
Purbaya pun optimis pasar saham Indonesia tidak mengalami penurunan klasifikasi, sebab fondasi ekonomi RI baik. Dalam hal ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI akan mengambil langkah untuk memperbaiki permasalahan tersebut.
“Tapi saya nggak akan turun ke sana, karena fondasi kita bagus. Nanti kekurangan-kekurangan yang dibsebutkan MSCI akan diperbaiki oleh Pak Mahendra (OJK),” jelasnya.
Adapun penurunan klasifikasi ini merupakan ancaman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) jika transparansi data kepemilikan saham yang diminta mereka tidak terpenuhi hingga batas waktu peninjauan pada Mei 2026.
Baca juga: Imbas MSCI, Outflow Investor Asing Tembus Rp6,12 Triliun
Lebih lanjut, Purbaya juga meyakini terkoreksinya pasar saham ini hanya akan terjadi dalam waktu singkat atau sekitar 2-3 hari ke depan. Optimisme tersebut seiring dengan target IHSG yang ingin dicapai untuk tembus 10.000 di akhir 2026.
“(IHSG) to the moon, jangan takut. Fondasi kita bagus. Kan saya Menteri Keuangannya. Optimis (IHSG sampai level) 10.000, nggak usah takut,” ungkap Purbaya. (*)
Editor: Galih Pratama
Jakarta - Implementasi asuransi wajib bencana di Indonesia membutuhkan sejumlah elemen kunci dan kondisi pendukung agar… Read More
Poin Penting Singapura memperketat skrining bandara dengan pemeriksaan suhu bagi penumpang dari wilayah terdampak virus… Read More
Poin Penting Airlangga menilai trading halt BEI sebagai momentum reformasi regulasi pasar modal. Pembahasan reformasi… Read More
Poin Penting OJK bersama SRO terus mengkaji kesesuaian proposal pasar saham domestik dengan ketentuan MSCI… Read More
Poin Penting DPK perbankan tumbuh 10,4 persen menjadi Rp9.467,6 triliun per Desember 2025, didorong giro… Read More
Poin Penting Risiko kerugian bencana alam di Indonesia mencapai Rp20 triliun-Rp50 triliun per tahun, dengan… Read More