Supaya Industri Down to Earth

Supaya Industri Down to Earth

BEBERAPA waktu lalu, di sekitaran Kuningan, Jakarta, Infobank berkesempatan mengobrol dengan Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur OVO. Dengan gaya yang santai dan stylish, pria kelahiran 15 Desember 1968 ini bercerita tentang perjalanan kariernya. Siapa sangka, sebelum menjadi orang nomor satu di salah satu perusahaan financial technology (fintech) payment terbesar di Indonesia, Karaniya sempat berprofesi sebagai wartawan yang kerap menulis soal ekonomi digital.

Pria jebolan The George Washington University, Amerika Serikat (AS), ini pernah berkarier sebagai managing editor di Majalah dan Koran Tempo pada 1998. Enam tahun setelahnya, Karaniya mulai melirik dunia digital setelah menemukan catatan lengkap soal kasus financial fraud, Jack Abramoff, dari media online. Dari situ, ia takjub karena media online atau digital dapat memberikan konten yang interaktif. Akhirnya, pada 2008, Karaniya menjadi founder, CEO & editor in chief di portal media online, VIVA.co.id. Karaniya juga pernah bekerja di beberapa media nasional lainnya, seperti Kompas TV, Liputan 6, dan The Jakarta Post.

Bertahun-tahun terbiasa membuat berita soal ekonomi digital, Karaniya pun menemukan persoalan unik. Suatu hari, ia menyadari bahwa ada masalah paling mendasar yang membayangi industri keuangan Indonesia, yakni literasi keuangan dan akses. Menurutnya, industri keuangan di Indonesia itu sangat elitis dan susah digapai oleh sebagian masyarakat. Kegelisahan pun mulai mengganggu pikirannya. Bagaimana caranya agar layanan dan fasilitas keuangan tidak sulit dijangkau oleh semua lapisan masyarakat hingga seluruh penjuru negeri?

“Dulu kalau mau dapat data tentang industri keuangan, susah dan mahal. Lalu, mau investasi juga susah. Saat saya jadi wartawan, banyak orang yang tidak mengerti soal investasi. Saya ingin orang lain tahu tentang hal ini,” ujarnya.

Keinginannya yang kuat untuk membuat semua masyarakat mudah mengakses layanan dan fasilitas keuangan, Karaniya pun akhirnya memutuskan untuk “banting setir”. Ia mendirikan perusahaan di bidang ekonomi digital. Pada 2014 Karaniya menjadi Co-Founder dan CEO Bareksa.com, sebuah marketplace reksa dana online. Setelah sukses mendirikan perusahaan yang menyediakan platform jual-beli reksa dana secara online, lima tahun kemudian Karaniya diangkat menjadi Presiden Direktur OVO.

Karaniya percaya bahwa industri fintech, seperti OVO, memiliki kekuatan untuk mengubah struktur ekonomi Indonesia yang identik hanya diperuntukkan bagi kalangan elite. Dengan fintech, ia yakin layanan keuangan dapat tersedia dan digunakan setiap orang untuk meningkatkan taraf hidup masing-masing individu.

“Sekarang kami sedang coba mengubah industri keuangan supaya down to earth. Dari pengalaman saya, fintech benar-benar menciptakan shifting di industri keuangan dari yang elitis menjadi demokratis. Contoh di OVO, ada data 27%-28% dari pengguna OVO datang dari kalangan unbanked dan underbanked. Mereka masuk ke sektor keuangan konvensional melalui fintech. Jadi, kami sedang melihat landscape keuangan nasional berubah,” pungkasnya. (*) Evan Yulian Philaret

Leave a Reply

Your email address will not be published.