Sri dan Sri vs Pandemi Dobel Resesi

Sri dan Sri vs Pandemi Dobel Resesi

Oleh Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu II

MENTERI Keuangan Sri Mulyani sudah menyatakan Indonesia akan memasuki resesi. Kondisi ini menegaskan beratnya situasi yang kita hadapi bersama: pandemi dobel resesi.

Resesi berarti pertumbuhan ekonomi yang negatif, atau penurunan ekonomi. Penurunan ekonomi akan menyebabkan penurunan daya beli, akibatnya barang dan jasa yang dibeli menurun, permintaan pada produk yang dihasilkan perusahaan menurun, perusahaan terpaksa mengurangi produksi, mungkin terpaksa PHK, yang berakibat pada semakin menurunnya daya beli, dan seterusnya. Artinya, ada putaran, layaknya spiral, yang menurun.

Pada tingkat negara, pemerintah tentu sudah berusaha menyiapkan dan melaksanakan berbagai langkah untuk menghadapi resesi itu. Secara teoritis strategi dasarnya disebut strategi “counter cyclical”, melawan putaran. Kita yakin Bu Sri Mulyani dan para profesional di Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan otoritas lainnya paham dan telah menyiapkan usaha melawan putaran yang menurun dengan stimulan yang dapat berakibat kebalikan, yaitu menyebabkan putaran spiral yang menaik.

Bentuknya adalah dengan program-program yang meningkatkan daya beli dan atau mengurangi biaya. Bantuan langsung tunai kepada masyarakat akan membuat daya beli bertambah, tingkat bunga kredit yang lebih rendah akan memberi insentif perusahaan melakukan investasi, dan penundaan pajak akan mengurangi beban-beban kewajiban. Keseluruhannya, jika terlaksana dengan baik, akan mampu membalikkan putaran resesi, atau setidaknya memperlambat penurunan dan mencegah penurunan ekonomi yang terlalu dalam.

Lalu apa yang harus dilakukan pada tingkat rumah tangga? Secara intuitif, ‘logika sederhana’ akan mengarahkan rumah tangga untuk menahan diri. Pada situasi resesi yang tidak menentu akan ada kecenderungan menahan diri dulu. Tabungan yang ada ‘diawet-awet’. Namun logika yang tampak benar jika diterapkan oleh satu dua rumah tangga, akan berbeda pada tingkat negara. Jika semua rumah tangga menunda atau mengurangi pengeluarannya, menambah atau mempertahankan tabungan, maka permintaan akan semakin turun, barang dan jasa semakin ‘tidak laku’, perusahaan terpaksa mengurangi produksi, kemungkinan terjadi PHK, dan pendapatan menjadi semakin rendah.

Inilah yang dalam pelajaran ekonomi dasar disebut sebagai “Paradox of Thrift” atau “Paradox of Saving”, keanehan menabung.  Peribahasa memang mengatakan ‘menabung pangkal kaya’ tetapi jika semua orang menabung justru akan ‘membuat miskin’. Kondisi ini termasuk dalam situasi yang dalam perkuliahan disebut “the fallacy of composition” situasi yang benar untuk individu atau untuk skala mikro, belum tentu benar untuk skala makro.

Jika logika sederhana ‘berhemat-hemat’ pada masa resesi bukan langkah yang tepat, lalu apa yang harus dilakukan? Mungkin yang pertama adalah bersikap untuk tidak terlalu menjadikan resesi sebagai sesuatu yang sangat menakutkan. Indonesia sudah pernah mengalaminya dan mampu keluar dari resesi hanya dalam hitungan bulan atau satu dua tahun. Sikap optimisme perlu dijaga dan diperbesar.

Kedua, perlu selalu mencari peluang dan kesempatan diantara kesulitan, bahkan untuk situasi pandemi dobel resesi sekalipun. Albert Einstein menyatakan ‘in the midst of every crisis, lies great opportunity’ dalam setiap krisis ada peluang. Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris masa Perang Dunia ke II juga pernah mengatakan “never let a good crisis go to waste”, jangan sia-siakan krisis.

Situasinya memang berat, dan disadari bahwa resesi memang timbul karena pandemi. Pandemi ini masih mengkhawatirkan karena belum ditemukan vaksin dan obat yang jitu menghadapi Covid. Namun sudah ada tanda-tanda menggembirakan bahwa antara 6 sampai 9 bulan lagi vaksin sudah akan tersedia. Meskipun virusnya mungkin masih belum hilang tetapi dunia sudah punya cara menghadapinya. Artinya, dalam waktu yang tidak terlalu lama – kurang dari setahun – resesi juga akan hilang atau setidaknya berkurang.

“Dik, resesi itu apa toh? Kok orang-orang pada ribut dan takut” Mbak Sri Nanik, mbakyu sepupu saya di Semarang tiba-tiba WA bertanya. “Resesi itu artinya nyari duit tambah susah Mbak, jualan bakal lebih susah lakunya” jawab saya. “Waduh, daganganku terus gimana?”

Mbak Sri sehari-hari berdagang kue kecil-kecilan. Lalu pertanyaan dijawabnya sendiri “Yo wes” aku nambah jualan nasi saja, yang bisa dijual murah-murah, kayak ‘nasi-kucing’ atau ‘nasi-uduk’. Kalo jaman lagi susah, tetangga-tetangga pasti juga banyak yang susah. Gak bisa lagi beli makanan yang mahal-mahal. Paling nggak, kalo mereka mau nyari makan yang enak dan murah, mereka bisa beli ke tempatku. Biar ada Covid atau resesi orang tetep butuh makan kan?

Bu Menkeu Sri (Mulyani) dan Mbak Sri (Nanik), yang kebetulan dua-duanya orang Semarang, sama-sama berjuang menghadapi pandemi dobel resesi ini. Dan selama masih ada optimisme, disertai dengan kreativitas melakukan apa saja yang bisa dilakukan, agar terjadi “counter cyclical” atau setidaknya dapat keluar dari putaran spiral yang menurun, apakah itu stimulus APBN atau beralih menjual ‘nasi kucing’ murah untuk membantu tetangga, maka krisis akan dapat dihadapi dengan lebih tenang.  

Harapannya ada ‘sejuta Sri’ lainnya yang bergerak bersama, yang mampu membuat krisis itu lebih cepat berlalu. Dan dapat diyakini tidak akan ada “the fallacy of composition”, karena optimisme dan kreativitas itu terbukti benar untuk individu pada skala mikro, dan akan benar pula untuk negara pada skala makro. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa akan segala sesuatu, selalu memberi perlindungan dan petunjuknya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.