Royke Tumilaar: BNI Harus Melompat Lebih Tinggi

Royke Tumilaar: BNI Harus Melompat Lebih Tinggi

ROYKE Tumilaar adalah salah satu bankir papan atas. Dia ditunjuk memimpin Bank Negara Indonesia (BNI) pada September 2020 oleh pemegang saham yang menilai BNI membutuhkan perbaikan dan transformasi agar mampu mengarungi ketidakpastian akibat pandemi COVID-19.

Alasan pemegang memilih Royke pastinya karena kepercayaan atas kemampuan dan pengalamannya di Bank Mandiri. Waktu itu, Royke sedang menahkodai Bank Mandiri dan itu belum genap setahun sejak bankir asal Manado Sulawesi Utara ini ditunjuk menggantikan Kartika Wirjoatmodjo yang diundang menjadi Wakil Menteri BUMN.

Royke yang memiliki keahlian di bidang corporate banking dan mengenyam pengalaman di bidang treasury sesuai dengan kebutuhan BNI yang kuat di korporasi dan jaringan mancanegara serta sudah hadir di berbagai segmen bisnis ritel dan membutuhkan transformasi. Dan karena pengalaman dan kapasitas kepemimpinannya, Royke dianggap mampu memimpin BNI.

Lalu bagaimana Royke melihat kondisi saat ini dan masa depan bank yang dipimpinnya saat ini?

Royke yakin BNI yang pada 5 Juli genap berusia 75 Tahun akan mampu melompat lebih tinggi. Dia melihat banyak keunggulan yang menjadi modal berharga untuk melakukan trasformasi agar bank ini lembaga keuangan yang unggul dalam layanan dan kinerja secara berkelanjutan.

“Salah satu kekuatan BNI adalah memiliki infrastruktur IT (information technology) yang bagus. Jadi, tinggal mungkin invest sedikit, kami bisa go digital. Korporasi juga mendukung. Jadi, dua, kemampuan digital dan punya daya saing global, itu jadi top priority di BNI,” ujar Royke.

Royke mengatakan, ada empat hal utama yang menjadi perhatian dan fokus dari transformasi BNI, yakni risk, agile, collaborative, dan execution atau disederhanakan menjadi “RACE”. Risk berarti budaya manajemen risiko (risk culture) BNI harus lebih kuat. Agile berarti BNI harus mampu adaptif dengan berbagai perubahan yang terjadi. Collaborative berarti BNI harus bisa lebih bekerja sama, berkolaborasi, baik di internal maupun dengan pihak eksternal. Dan, execution, semua program yang dicanangkan BNI harus benar-benar dapat dilaksanakan.

“Kami harus beradaptasi dengan kondisi sekarang. Kami menjadi muda kembali dengan transformasi. Kebetulan, ini by situation (pandemi) dan di usia 75 tahun kami bertransformasi. Kami semakin dewasa, tapi juga harus adaptif, memperkuat kolaboratif. Transformasi ini bukan kami ikut-ikutan. Dan, ini tidak hanya sekarang, tapi kami juga melihat sampai ke depan, lima tahun ke depan, misalnya. Dan juga bukan berarti kaku, harus strik dengan itu, tidak. Makanya, ada RACE (risk, agile, collaborative, dan excecution). Itu tema kami di transformasi, RACE,” ujar Royke.

Royke menambahkan, BNI harus memiliki budaya risiko, cepat beradaptasi dengan perubahan, aktif berkolaborasi, dan memiliki kemampuan untuk mengeksekusi berbagai program dan inisiatif yang sudah dibuat. “Saya ikuti semua proses ini, saya monitoring, saya pastikan transformasi ini jalan. Saya yakinkan semua, kami komunikasikan transformasi ini, kami harus berubah. Sosialisasi dan komunikasi soal transformasi ini penting. Dan, tidak cukup sekali, harus berkali-kali, kenapa kami transformasi, kenapa kami harus berubah. Dan, sebagian besar internal BNI antusias dengan perubahan atau transformasi ini,” imbuh Royke.

Bagaimana dinamika yang terjadi di BNI sehingga harus melakukan perbaikan dan transformasi? Seperti apa hasil perbaikan yang sudah terlihat dalam waktu singkat dan seperti apa wajah BNI ke depan? Baca selengkapnya wawancara Karnoto Mohamad dan Ari Nugroho dari Infobank dengan Royke Tumilaar di salah satu ruang kantornya Juni lalu di Majalah Infobank Nomor 519 Juli 2021. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.