Obituari Amin Mas’udi, Putra Cepu Penyayang Ibu Itu Telah Pergi

Obituari Amin Mas’udi, Putra Cepu Penyayang Ibu Itu Telah Pergi

Jakarta – Kenapa orang baik seringkali lebih cepat dipanggil Tuhan? Itu rahasia-Nya. Tapi, kata Imam Ahmad, itu agar teladannya menjadi panutan bagi orang lain.
 
Sabtu pagi, 7 November 2020, pukul  09.28 WIB, kami kembali kehilangan orang baik. Dia Amin Mas’udi, Direktur Bisnis Penjaminan PT Jamkrindo (Persero). Dia dipanggil untuk menghadap-Nya, setelah sepekan transit di rumah sakit.
 
“Beliau meninggal karena serangan jantung. Di Rumah Sakit Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta,” ujar Abdul Bari, Corporate Secretary PT Jamkrindo. “Kami sangat berduka,” tambahnya.
 
Tak hanya Jamkrindo, kami, kawan-kawan media yang sering berinteraksi dengannya, juga merasa sangat kehilangan.
 
Bagi awam, Amin Mas’udi mungkin tak terlalu dikenal. Meski sosok yang terbuka, dia terlalu low profile untuk menonjolkan diri. Ketika hadir di sebuah acara pun dia lebih memilih merapat ke teman-teman media.
 
Padahal, Amin adalah profesional yang sangat menguasi bidang kerjanya. Saat pandemi Covid-19, misalnya, dia berada di garda terdepan untuk program pemerintah bagi penyelamatan UMKM melalui Program Penjaminan Kredit PEN (Penyelamatan Ekonomi Nasional).
 
Background pendidikannya juga mumpuni. Selepas lulus dari Manajemen Unisba Bandung, Amin melanjutkan pendidikan di Magister Manajemen IPB Bogor.
 
Pendidikan level internasionalnya juga bejibun. Mulai dari studi penjaminan di SBA AS dan BPI Prancis; ACSIC Conference di Yokohama, Bangkok, dan Kuala Lumpur; studi ATP di Taipei; studi SRG di India; AECM Conference di Puerto Rico; studi FMII di Kuala Lumpur; dan Working Level Council di Korea Selatan.
 
Kerasnya hidup semasa kecil membuat pria kelahiran Cepu, 24 Juni 1973 itu menjadi pribadi yang ulet, tekun, dan pekerja keras. Itulah yang membawanya sukses menapak karier di BUMN, selain karena kecerdasannya.

Banyak tokoh menjadi saksi akan kompetensi dan kebaikan Amin. ”Amin itu ilmu soal penjaminannya lengkap. Komplet. Ia masa depan Jamkrindo,” kata Diding S Anwar, mantan Dirut Jamkrindo.

“Amin orang baik, santun, dan ilmu soal penjaminan komplet. Ia talent poll Jamkrindo,” kata Herry Sidharta, mantan Dirut BNI yang pernah menjadi atasan Amin waktu Herry menjadi direktur di Jamkrindo.

“Saya pertama kali ketemu Amin ketika sedang mempersiapkan holding. Amin menjelaskan dengan rinci dan mudah. Anaknya santun dan smart,” kata Robertus Bilitea, Direktur Utama Indonesia Financial Group (IFG), kepada Infobank, saat datang ke ruang jenazah di RS Yarsi.

Adalah Kadar Wisnuwarman, Direktur Jamkrindo, yang banyak kenangan. Semua ia ungkapkan dalam tulisan kenangan untuk Amin. ”Pekerja keras banget orangnya, rasa tanggungjawabnya juga besar, kreatif, banyak produk baru berasal dari idenya. Amin minded pada teknologi tinggi,” ungkap Kadar.

Sisi sosial Amin juga tinggi. “Beliau menggerakkan ‘Jumat berbagi’ di kalangan kita,” kata Kadar yang malam sebelum meninggal masih sempat WhatsApp-an.

”Ia harusnya bedrest, tapi tak mau. Ia pekerja keras, sangat keras dan tekun,” kata Kadar yang sebenarnya janjian ketemu Amin di libur panjang pekan lalu di Malang. Janjian ketemu batal karena Amin merasa kecapekan karena membawa mobil tanpa sopir saat menengok ibunya di Cepu.

Hal yang sama dikesankan oleh kolega Amin, Nina Kurnia Dewi. ”Dia muslim yang taat, memiliki pemikiran selalu kritis dan membangun, update terhadap teknologi dan perkembangan terkini,” kata Nina yang kini menjadi Dirketur LKBN Antara.

Nina meneruskan cerita soal koleganya itu. ”Amin seorang pembelajar yang gesit (agile learner). Hal ini didukung minatnya pada TI yang cukup tinggi. Dia sangat rakus membeli buku. Bila diminta beli baju atau dasi bermerk misalnya, dia akan mikir berkali-kali dan sayang uang. Namun bila sudah melihat buku, jutaan rupiah baginya dikeluarkan dengan cepat dan tak pernah ragu,” papar Nina.

“Pak Diding yang memaksa kami yang belum pernah ke AS, harus bisa ke AS, melalui Pak Sekper Yuliarso saat itu. Kemudian kami membuka jalan kontak SBA (Small Business Administration) di Washington DC dan jaringan penjaminan Eropa dengan membawa pembina, Pak Bandung dan Pak Wahyu Wibowo dari Kementerian BUMN. Alhamdulillah jaringan itu yang memudahkan mereka datang ke Bali di 2015,” kenang Nina

“Amin yang meratakan jalan bagi UU Penjaminan,” ungkap Nina

Banyak yang hadir mengantarkan Jenazah di RS Yarsi. Ada Randi Anto, mantan Dirut Jamkrindo; Rusdonobanu, Direktur Jamkrindo; dan Shophie Alizza, mantan Direktur Jamkrindo. Juga, Nina Kurnia Dewi, Direktur Antara, kolega Amin waktu di Jamkrindo; Denny S. Aji dari Askrindo; dan direksi Jamkrindo Syariah seperti Gatot Suprabowo dan Sunhaji; serta beberapa direksi BUMN.
 
Di mata teman-temannya, Amin adalah sosok yang peduli. Di tengah kesibukannya di Jakarta, misalnya, dia masih memberi perhatian besar kepada remaja di kampung halamannya, Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Dia menjadi pembina klub sepak bola di desa kelahirannya itu hingga berhasil meraih prestasi nasional dan anak-anak didiknya bertebaran bermain di Liga Indonesia. Ia merintis sekolah bola, membuat turnamen setiap tahunya.

”Harus ada anak-anak berprestasi dari kampung sini yang rata-rata anak petani,” ceritanya setahun lalu ketika Infobank berkunjung ke lapangan bola Desa Kapuan.

Dia juga aktif di Ikatan Alumni SMA Negeri Cepu, almamaternya, sebagai sekretaris jenderal. Di aktivitasnya ini, dia dikenal dermawan dan banyak membantu masyarakat Cepu.

”Dik Amin selalu menjadi orang pertama yang menjadi donatur jika ada kesusahan seperti saat musim kering yang selalu datang setiap tahun,” kata Eko B Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank yang menjadi bendahara dan Amin menjadi sekretrais di Ikatan Alumni SMA Negeri Cepu.
 
“Sejak kecil dia sangat sederhana, dan itu tidak berubah meski sudah menjadi orang berhasil di Jakarta,” ujar Eko yang rumah ibunya bersebelahan dengan rumah ibu Amin sebelum ibunya pindah di Desa Kapuan yang jaraknya sekitar 8 kilometer dari Cepu.

“Dia sudah seperti adik saya sendiri, dan sepupu-sepupunya temen bermain saya waktu kecil,” tambah Eko yang baru tahu beberapa tahun belakangan kalau Amin ternyata satu SMA dan keluarga besarnya bertetangga di kampung.
 
Makanya, Eko sangat shock ketika mendapat kabar kepergian Amin untuk selamanya. Yang langsung terbayang di benaknya adalah kesedihan mendalam ibunda Amin, ketika mendapat kabar kepergian anak tercintanya itu.

“Dia sangat menyayangi dan menghormati ibunya. Seorang kawan pernah cerita, tahun 2017, dia berniat pinjam uang agak banyak ke Kopkar Jamkrindo. Ternyata uang itu untuk membelikan mobil, untuk ibunya yang sudah sepuh di usia 80-an,” ungkap Eko pelan.

Bahkan, sebelum meninggal, Amin menyempatkan diri mengambil cuti untuk mengunjungi ibunya di Desa Kapuan. Sepertinya, dia datang untuk berpamitan, meski tak sampai terucapkan.

Amin anak ke-9 dari 10 bersaudara dari keluarga sederhana dan menjadi yatim sejak tahun 1977. Ayahnya meninggal dunia ketia Amin berusia 4 tahun.

Keluarga besar Amin merupakan keluarga muslim yang sangat taat. Mereka tinggal di Kauman, Masjid Besar, Cepu. ”Kalau boleh dibilang, keluarga besar Amin-lah yang mengurus masjid besar dan sekolah di lingkungan itu. Meski sederhana, kalau soal pendidikan agama dan pendidikan tinggi, menjadi prioritas utama,” kata Eko mengenang.
 
Pada pagi November yang basah, penikmat jazz, pembaca karya-karya Stephen King dan JK Rowling, serta pendukung setia La Vecchia Signora itu telah pergi, menyusul ayah (mertua)-nya, H Tb Yusuf Hadi, yang juga baru pergi, 18 Maret 2020 lalu.

Dia dimakamkan di samping makam ayahnya di Desa Kapuan malam itu juga. “Pemakaman selesai pukul 00.15 WIB. Alhamdulillah lancar semuanya, Pak,” tulis Abdul Bari, Corporate Secretary Jamkrindo, melalui WA, kepada Infobank yang mengantar jenazah Amin sampai peristirahatan terakhir.

Seluruh pimpinan wilayah Jamkrindo dan beberapa kepala divisi hadir dalam pemakaman yang khusyuk malam itu.
 
Selamat jalan, Mas Amin.
 
Tuhan telah menanti Panjenengan, di pintu surga-Nya. (Darto Wiryosukarto)

Leave a Reply

Your email address will not be published.