Mardiasmo Pria Bersahaja dengan Gunting Emas

Mardiasmo Pria Bersahaja dengan Gunting Emas

Jakarta — The Girls With The Golden Scissors, novel besutan Julia Drosten, menghadirkan sosok wanita tangguh Fanny Schindler. Wanita yang dengan ketekunan, kecerdasan, kejelian, dan keteguhannya mampu mengatasi berbagai rintangan berat yang dihadapinya.

Ketika Perang Dunia I meledak secara brutal, dengan ketajaman naluri laksana gunting emas, Fanny harus memilih mana yang benar-benar penting dan layak untuk diperjuangkan, serta mengunting dan membuang yang tak penting.

Sosok tekun, cerdas, jeli, dan teguh dengan prinsipnya, ternyata tak hanya ada dalam dunia rekaan Drosten. Di dunia nyata pun ada. Mardiasmo. Profesor Dr Mardiasmo, atau akrab disapa Prof Mo, adalah salah satu sosok yang juga memiliki ketajaman naluri laksana gunting emas.

Sri Mulyani Indrawati merasakan betul bagaimana ketajaman gunting emas Prof Mo saat dia balik dari Bank Dunia dan dipercaya kembali sebagai menteri keuangan. Saat pergi ke Amerika, APBN masih di kisaran Rp1.000 triliun. Namun, ketika dia kembali ke Indonesia, sudah membengkak menjadi Rp2.000 triliun.

Setelah membedah satu per satu penyebab membengkaknya belanja APBN hingga dua kali lipat itu, Sri Mulyani langsung menugaskan Prof Mo untuk menyelesaikan. Dia tahu betul kepada siapa bisa mempercayakan tugas berat itu. Makanya, “Waktu saya kembali ke Indonesia, saya merasakan pleasant surprise karena ternyata sekarang Pak Mardiasmo menjadi wakil saya,” ungkap Sri Mulyani.

Betul saja. Dalam waktu singkat, Prof Mo mampu menyelesaikan tugasnya. Membabat habis anggaran yang tumpang-tindih dengan kejataman golden scissors-nya. Sampai-sampai, salah satu pejabat eselon I di Kemenkeu berkelakar, “Saking tajamnya pemotongan itu, mereka sudah tidak punya lagi lemak-lemak, benar-benar tinggal tulang,” ujar Sri Mulyani.

Itu hanya sepenggal kisah tentang Prof Mo yang diungkapkan Sri Mulyani dalam buku biografi Mardiasmo: The Man With Golden Scissors yang diterbitkan Kemenkeu RI, di usia Prof Mo ke-63, 10 Mei 2021.

Mengulas Prof Mo, pria sederhana dengan latar belakang birokrat, akademisi, dan akuntan profesional ini tak ada habisnya. Sebagai birokrat, dia laksana garis lurus yang tak ada bengkok-bengkoknya. Sangat-sangat efisien dalam setiap mengatur anggaran keuangan pemerintah. Dia tak segan-segan memangkas “kantong semar”, alokasi anggaran yang melebihi kebutuhan meski secara administratif logis.

Itulah mengapa kolega-koleganya menjulukinya sebagai “Pria Dengan Gunting Emas”. Guntingan Wamen, istilah ini begitu populer di lingkungan Kemenkeu.

Sebagai akademisi, kompetensi Prof Mo, Guru Besar Akuntansi UGM, jelas tak diragukan lagi. Bahkan, sejak masih berstatus mahasiswa, dia sudah berkilau. “Mardiasmo adalah mahasiswa terbaik di kelas akuntansi yang saya ajar,” kenang Prof Bambang Sudibyo, mantan Menkeu yang juga dosen Prof Mo saat di UGM.

Dan, sebagai akuntan profesional, dia juga berkilau terang, laksana bintang. Pada Kongres XII Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tahun 2018 silam dia kembali terpilih menjadi Ketua IAI untuk kali ketiga, sejak 2010.

Meski memiliki bintang di tiga bidang yang digelutinya itu, Prof Mo tetaplah sosok yang low profile dan memilih hidup dalam kesahajaan. Saking sahajanya, angkringan, tempat makan dan minum low price, adalah tempat favorit Prof Mo untuk MEOK.

MEOK adalah istilah Prof Mo untuk menyebut “Makan Enak Omong Kosong” alias ngobrol santai sambil makan minum.

“Beliau tipikal real javanese. Betul-betul orang Jawa yang lembah manah. Kalau berkata, beliau sangat santun, halus, dan terarah,” ujar Marwanto Harjowiryono, Dirjen Perimbangan Keuangan (2011 2013) dan Dirjen Perbendaharaan (2013 2019).

Tipikal Jawa yang memegang teguh prinsip gemi nastiti ngati-ati, ajaran hidup hemat dan berhati-hati dalam membelanjakan uang, yang ditanamkan oleh wanita yang sangat disayangi dan dihormati: Soepasrin, ibunda tercinta. Ajaran yang membuat Prof Mo sangat akuntabel, profesional, dan penuh integritas.

“Orangnya sangat Jawa. Saya juga orang Jawa, tetapi beliau itu sangat Jawa. Beliau sangat commited menggunakan kekuatannya untuk bisa ngemong banyak orang,” tutur Sri Mulyani.

Prof Mo sosok yang selalu hadir dengan solusi atau jalan tengah terbaik. “Saat kita harus mengambil keputusan rumit, kehadiran beliau membuat kita lebih rileks dan tidak stres,” ujar Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK.

Prof Mo juga sosok yang religius dan sangat menghormati orangtua, khususnya ibundanya. Dia menyakini, perjalanan karier dan kehidupannya yang lempang itu, berkat ridha Allah dan mantra ibundanya. “Kalau Ibu marah, saya sampai tidak bisa tidur,” ujar Prof Mo yang rutin berkabar melalui sambungan telepon dari Jakarta dengan ibunya yang tinggal di Solo.

Pernah suatu hari, karena kesibukannya Prof Mo lupa menelepon ibunya, hingga disindir, “Diasmo (panggilan ibunya ke Prof Mo) dadi lali telepon ibu, sekarang jauh di mata jauh di hati ya”.

Begitu mendapat sindiran ibunya, Prof Mo saat itu juga langsung membeli tiket untuk pulang ke Solo. Sesampai di rumah, dia langsung menghambur dan menangis di pangkuan ibunya.

Itulah mengapa, pada tanggal 15 Februari 2018, Prof Mo sangat-sangat berduka. Ibundanya pergi untuk selama-lamanya.

Kini, Prof Mo hanya bisa mengingat kebaikan, kelembutan, teladan, serta pesan ibundanya yang selalu diucapkan jika Prof Mo pamit ke Jakarta, “Diasmo, tak pangestoni neng Jakarta, sing iso nggowo, supoyo akeh konco, ojo sombong, ojo korupsi”. (Diasmo, aku beri restu ke Jakarta, jaga diri supaya banyak teman, jangan sombong, jangan korupsi)

Pesan yang membentuk Prof Mo menjadi sosok yang penuh integritas dan selalu menjaga amanah yang dipercayakan kepadanya. “Kalau saya masih amanah, silakan ikuti saya. Namun, kalau memang saya tidak amanah lagi, tolong ingatkan; dan jangan ikuti saya,” pesannya. (*) Darto Wiryosukarto

PROFIL BUKU
Judul : Mardiasmo: The Man With Golden Scissors
Penulis : Reni Saptati DI, dkk
Penerbit : Kemenkeu RI
Halaman : 310 halaman
Terbit : Mei 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.