Kemerdekaan Corona

Kemerdekaan Corona

Oleh Awaldi, Direktur Operasional Bank Muamalat

MASIH dalam suasana hari kemerdekaan. Kamis pagi tanggal 20 Agustus hari libur bertepatan dengan 1 Muharram 1442 Hijriyah, setelah gowes pagi-pagi, saya duduk nyandar di teras rumah sambil memegang gadget Samsung S9 Plus. Saya langsung masuk ke aplikasi WAG (WhatsApp Group). Seperti juga WAG punya anda-anda semua, gadget yang ada di tangan saya sudah tang-teng-tong dengan text yang bersileweran sana-sini ketika ditinggal sebentar. Saya terpaku dengan salah satu WAG, dari rekan-rekan yang membernya kebanyakan mantan HR Director perusahaan ternama, yang sudah senior. Nama grup WA-nya “Pagiyuban HRDF”.

Pembahasan topik pagi itu dipicu oleh cuitan mas Kusumo, yang kemudian disambut dengan diskusi oleh mas Effendi, pak Josef dan om Pambudi serta saya sendiri. Cuitan dari mas Kusumo adalah tentang penemuan mutakhir yang dimuat di New York Times (NYT) bahwa ada possibility berdasarkan study yang dilakukan bahwa sel imun (T Cell) dan sel antibody (B Cell) manusia sudah mulai belajar mengenal virus Corona, walaupun yang beraangkutan belum pernah terinfeksi ataupun diberi vaksin.

Saya menyebut temuan ini sebagai konfirmasi tentang bagian dari “proses kemerdekaan” bangsa manusia dari serdadu-serdadu Corona yang terus menyerang tak henti-henti. Inilah “kemerdekaan dasar” kita dari virus corona. Bahwa manusia itu adalah makhluk paling inteligent yang diciptakan oleh Tuhan. Sudah dilengkapi dengan segala macam peralatan canggih untuk melawan para musuh-musuhnya. Para pejuang itu cepat dalam belajar. Cara belajar konvensionalnya dalam mengenali virus adalah dengan penyuntikan vaksin. Itu yang sedang dilakukan Biofarma dan Unpad sekarang ini dalam bentuk uji coba vaksin Sinovac dari China.

Biofarma saat ini sedang melakukan uji klinis massal untuk melihat reaksi darah putih kita, apakah dia dapat mengenal jenis virus yang disuntikkan ke dalam tubuh (melalui vaksinasi). Kalau jenis virus yang dimasukkan itu cepat dikenalnya dan memang persis sama dengan jenis virus corona yang akan dihadapi nanti, maka proses uji coba ini akan dianggap berhasil.
Perkiraannya pada akhir tahun nanti proses uji coba vaksin sudah akan selesai. Produksinya di kuartal pertama tahun 2021. Kemungkinan akan didistribusikan dan disuntikkan ke dalam tubuh 250 juta penduduk Indonesia sampai dengan pertengahan tahun 2021. Itulah nanti “hari kemerdekaan” kita dari virus corona. Hari dimana kita bisa melakukan sosialisasi seperti dulu dengan temen-temen karib.

Alhamdulillah nya, dengan temuan yang dilaporkan oleh NYT di atas, kemungkinan hari kemerdekaan kita akan lebih cepat. Terutama bagi orang-orang yang mampu memelihara sel darah putihnya untuk tetep sehat dan energik. Sel darah putih mengandung banyak komponen, dua yang terpenting adalah sel B (sel antibody) dan sel T (sel imun); sel B bertugas untuk mengenali virus dan mengurungnya, sel T yang akan datang ke lokasi kurungan itu untuk membunuh, memancung dan menembak secara sadis seperti dalam film Iko Uwais produksi Netflix 2019 berjudul The Nigth Comes For Us.

Temuan para dokter peneliti yang dimuat di NYT itu menyatakan bahwa sel darah putih kita ada possibility mengenali virus corona yang masuk, baik karena sudah pernah diserang oleh virus itu, ataupun karena belajar dari pengalaman yang lalu bahwa virus yang menyebabkan badan induk semangnya meriang, panas, batuk batuk, adalah virus jahat yang mesti di basmi. Dan kebanyakan kita sudah pernah mengalami simpton serangan virus yang menyebabkan badan kitra meriang, pilek, dan capek-capek tulang. Sel darah putih manusia, menurut study itu, sudah mulai memiliki intelengensia untuk mengenalinya walaupun belum pernah terinfeksi maupun divaksinasi.

Dalam diskusi di WAG HRDF, yang disetujui sebagian, tapi oleh om Pambudi keliatannya ditanggapi tidak serius mungkin kurang percaya, kita harus memberikan ruang agar sel darah putih (yang mengandung prajurit sel T dan sel B) selalu diproduksi dalam jumlah yang cukup, energik dan kuat melawan kuman-kuman. Caranya adalah dengan belajar untuk bertahan dengan perut kosong lebih lama. Perut kosong tidak sama dengan kelaparan. Perutnya dibiarkan kosong, tapi jangan sampai kelaparan.

Nasehat Nabi, “makanlah kalau kamu sudah lapar, dan brenti makan sebelum kenyang”. Jadi makan tidak usah mengikuti western-standard time (breakfast, lunch, dinner). Makan kalau hanya lapar saja. Normalnya, breakfast dan one another meal pada waktu sore. Selebihnya perut dibiarkan istirahat mencerna.

Kenapa demikian? Penjelasannya adalah sel darah putih akan selalu sibuk, kalau perut selalu diisi. Makanan yang masuk ke dalam perut kita berisi banyak kuman, bakteri dan virus. Tugas sel darah putih adalah memenjarakan semua kuman-kuman itu, dan membunuhnya. Jadi mereka akan super sibuk kalau perut selalu diisi makanan. Mereka butuh istirahat untuk merenggangkan otot-ototnya dan mengasah pisau-pisau yang akan dipakai membunuh kuman. Mereka perlu latihan karate dan ilmu tenaga dalam. Bagaimana itu bisa dilakukan kalau mereka sibuk setiap saat? Karenanya perut kosong akan merangsang produksi sel darah putih yang cukup, juga membuat sel-sel prajurit ya makin kuat dan perkasa.

Selain perut kosong yang memungkinkan suasana alkaline/basa dalam tubuh, cara lain adalah dengan makan lebih banyak sayur, minum-minuman herbal seperti jahe, kunyit, cengkeh, pala, bawah putih; memperbanyak rutinitas olahraga, meluangkan waktu untuk meditasi secara periodik, dan memensiunkan pikiran supaya digunakan sesuai keperluan aja selebihnya suruh tidur aja tuh pikiran. Jangan dibiarkan mengembara ke masa lalu (tempatnya kekecewaan dan sakit hati); jangan biarkan lepas ke masa depan (tempatnya ketakutan dan kecemasan). Kosongkan pikiran, hiduplah riang gembira, nikmati apa yang ada, syukuri nikmat Tuhan. Itu semua inysallah mempercepat kemerdekaan kita dari Corona.

Tentu kemerdekaan hakiki kita dari Corona adalah “bisa hidup berdampingan dengan diri sendiri”. Mungkin akan saya ekspor dalam next tulisan kalau tidak lupa ya. Hidup berdampingan dengan diri sendiri maknanya kita belajar tidak sibuk, tetapi tetep merasa berarti dalam hidup. Kita belajar lama-lama tinggal di rumah, tapi tidak bosan. Kita belajar melakukan pekerjaan rutin dan remeh-temeh, tapi merasa ekstasi. Kita belajar tidak berhaha-hihi dengan teman-teman, tetapi tidak merasa terasing. Kita sudah bersahabat dengan diri sendiri. Kita sudah merdeka dari kehadiran orang lain. Itulah kemerdekaan hakiki dari Corona.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.