Agus Martowardojo: Bank Harus Memperkuat Strategi Berkompetisi

Agus Martowardojo: Bank Harus Memperkuat Strategi Berkompetisi

NAMA Agus DW Martowardojo sulit dihilangkan dari panggung dunia perbankan. Kendati sudah tidak memimpin bank umum sejak 2010, Agus masih dipandang sebagai bankir kawakan yang disegani. Namanya pun masih terpampang sebagai Ketua Dewan Pengawas Ikatan Bankir Indonesia (IBI). Tentu sayang jika jam terbang dan pengalamannya yang seabrek tidak dimanfaatkan untuk kemajuan industri perbankan Indonesia yang sekarang mengadapi disrupsi teknologi dan dampak COVID-19.

Apalagi, Agus Marto yang di mata kolega maupun rekan-rekannya dikenal sebagai bankir bertangan dingin dan suka bekerja keras, memiliki kisah sukses memimpin krisis di beberapa bank bermasalah.

Agus yang merintis karir di Bank of America dan membangun karir kepemimpinan di Bank Niaga, berhasil memimpin krisis Bank Bumiputera pada 1995 di usianya ke 39 tahun. Pada 1998, Agus diminta memimpin Bank Exim yang setengah karam akibat krisis moneter sebagai bagian dari proses merger empat bank BUMN menjadi Bank Mandiri. Dia juga berhasil memimpin merger PermataBank pada 2002.

Namanya kian melambung saat dia berhasil memimpin krisis Bank Mandiri pada 2005 hingga pemerintah menariknya menjadi Menteri Keuangan pada 2010. Tugas berikutnya adalah menjadi Gubernur Bank Indonesia pada 2013.

Sejak turun dari kursi Gubernur BI pada Mei 2018, Agus Marto seperti menghilang. Namanya sudah tidak lagi menghiasi media massa seperti sebelumnya. Agus kerap menjadi media darling terutama sejak memimpin Bank Mandiri pada 2005 dan dilanjutkan sebagai Menteri Keuangan pada 2010 dan Gubernur BI pada 2013.

Adalah William Tanuwijaya sang pendiri Tokopedia yang dengan sigap memanfaatkan pengalaman Agus Martowardojo dengan mengundangnya untuk menjadi kursi komisaris utama (komut) pada awal 2019. Beberapa bulan kemudian, Kementerian Keuangan memintanya sebagai Komisaris Utama Sarana Multi Infrastruktur (Persero).

Baru pada Februari 2020 Kementerian BUMN memintanya untuk menjadi komut Bank Negara Indonesia (BNI), bank yang sebelum pandemi COVID-19 datang mengalami peningkatan loan at risk akibat terlalu ekspansif tanpa diimbangi risk management yang cukup. 

Infobank beruntung bisa menemui Agus Martowardojo di kantornya, Graha BNI Lantai 31, pada awal Juni 2021. Agus mengungkapkan bahwa BNI adalah bank yang dihormati karena kehadirannya di pasar international dan menjaga kepemimpinannya dalam banyak inisiatif untuk selalu di depan.

“Bank BNI pun adalah satu institusi yang terus berhasil menjaga kepemimpinanya sehingga dalam banyak inisiatif BNI selalu ada di depan. BNI adalah bank BUMN yang pertama menjadi bank publik. Kita juga melihat kehadiran BNI di seluruh Indonesia, dan memberikan pelayanan jasa perbankan yang lengkap. Mulai dari bisnis banking, korporasi, UMKM, sampai dengan ritel serta consumer, dan terus BNI menunjukkan nilai tambahnya,” ujar bankir kelahiran Amsterdam 24 Januari 1956 ini.

Namun, Agus melihat pertumbuhan kredit yang diraih BNI selama tiga tahun sebelum COVID-19 kurang diimbangi dengan manajemen risiko yang cukup sehingga pada saat yang sama kualitas kreditnya menurun. Loan at risk naik menjadi 9,4% pada akhir 2019 kemudian di atas 10% pada Februari 2020 dan tidak disertai dengan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang mencukupi.

“Ini menjadi perhatian karena mungkin aspek manajemen resiko yang kurang seimbang,” ujar Agus.

Menurut Agus, semua bank termasuk BNI harus bisa mengelola resiko kredit dan mengantisipasi kondisi yang bisa lebih buruk akibat masa pandemi yang Panjang. Selain memonitor kualitas kreditnya dengan memiliki cadangan yang memadai, semua bank juga harus memiliki strategi untuk berkompetisi.

“Kunci keberhasilan bank adalah bagaimana memahami segmen pasar yang ingin dibangun, mempersiapkan sumber daya manusia yang handal, bagaimana menyusun produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, dan mempersiapkan teknologi informasi yang handal. Tentu semua harus didukung oleh sumber daya keuangan, dan itu ditandai dengan permodalan yang memadai,” jelasnya.

Bagaimana bank-bank memenuhi permodalan untuk menghadapi tantangan perbankan masa depan? Bagaimana bank-bank mengantisipasi peningkatan NPL setelah kebijakan relaksasi restrukturisasi berakhir? Apa arahan Dewan Komisaris kepada Dewan Direksi BNI yang sedang sibuk memperbaiki kualitas kredit dan melakukan transformasi? Selengkapnya baca wawancara Karnoto Mohamad dari Infobank dengan Agus Martowardojo di Graha BNI Lantai 31 pada Juni lalu di Majalah Infobank Nomor 519 Juli 2021. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.