Top, Bank BRI Jadi BUMN Penyumbang Laba Terbesar di 2021

Top, Bank BRI Jadi BUMN Penyumbang Laba Terbesar di 2021

Kapitalisasi Pasar BRI
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Jajaran direksi dan manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk perlu bangga akan pencapaian baiknya di 2021. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) satu ini tercatat menjadi penyumbang laba terbesar bagi Kementerian BUMN di sepanjang tahun 2021.

“Transformasi yang diinisiasi oleh Kementerian BUMN terbukti memberikan dampak positif terhadap BRI dan seluruh perusahaan BUMN secara umum. Untuk itu, transformasi ini akan terus kami perkuat untuk menjaga keberlanjutan bisnis ke depan,” ucap Direktur Utama BRI Sunarso, Jumat, 10 Juni 2022.

Bank BRI menjadi BUMN yang mencatatkan laba tertinggi sebesar Rp32,22 triliun di tahun 2021. Perolehan ini setara 25,5% dari total laba seluruh BUMN di tahun 2021.

Pada Rapat Dengar Pendapat dengan DPR (07/06), Menteri BUMN Erick Thohir melaporkan laba BUMN di 2021 mencapai Rp126 triliun. Adapun capaian tersebut terpengaruh low-base effect dari laba tahun 2020 yang hanya senilai Rp13 triliun.

Sebagai bentuk economic value creation yang diusung perseroan, BRI juga telah menyetorkan dana sebesar Rp27,09 triliun kepada kantong negara di sepanjang tahun 2021. Setoran tersebut terdiri dari pembayaran pajak senilai Rp20,17 dan pembayaran dividen atas laba tahun buku 2020 senilai Rp6,92 triliun.

“Jika ditarik lebih jauh, sejak tahun 2019 hingga 2021, BRI telah menyetorkan pajak dan dividen kepada negara dengan jumlah total mencapai Rp 82,03 triliun,” rinci Sunarso.

Sunarso mengungkapkan, penopang utama pertumbuhan laba BRI di sepanjang tahun 2021 lalu terletak pada kinerja kredit dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh positif disertai penurunan biaya bunga yang signifikan. Pada saat bersamaan, perseroan mampu mengelola portofolio mix dan kualitas aset sehingga dapat meningkatkan yield asset.

“Raihan laba BRI membuktikan perseroan dapat terus meng-create economic value kepada seluruh stakeholders di tengah kondisi yang menantang,” sebutnya.

Lebih jauh, Sunarso mengungkapkan perseroan telah menyiapkan empat strategi utama untuk meneruskan capaian positif hingga akhir 2022. Yakni selective growth, di mana BRI berfokus pada sektor yang memiliki potensi tinggi, dengan eksposur minimum terhadap gejolak eksternal, yaitu sektor pertanian, industri bahan kimia, serta makanan dan minuman.

Selain itu BRI akan meneruskan strategi business follow stimulus dengan memfokuskan pertumbuhan berdasarkan stimulus pemerintah untuk membantu penguatan pertumbuhan ekonomi domestik.

Selanjutnya, BRI akan fokus pada kualitas, selektif dalam menentukan kelayakan nasabah restrukturisasi dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi bisnis nasabah. Serta menerapkan soft landing strategy, dengan membentuk cadangan yang cukup untuk mengantisipasi terjadinya pemburukan kualitas kredit nasabah restrukturisasi.

Sunarso mengatakan, untuk menjaga profitabilitas, BRI fokus pada pinjaman dengan high yield tinggi yaitu segmen mikro dan consumer loan, serta meningkatkan efisiensi melalui peningkatan dana murah (CASA).

“Dengan penerapan Good Corporate Governance (GCG) yang baik, BRI Group akan terus fokus di segmen UMKM, terutama mikro. Kemudian dengan cara-cara yang efisien, dan value yang diciptakan harus kembali ke mikro, dan itu akan menjadi putaran bola salju yang makin besar. Sehingga akan semakin besar value creation kepada seluruh stakeholders,” tutup Sunarso. (*)

 

Editor: Rezkiana Nisaputra

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]