Dolar AS; Terus memberi tekanan. (Foto: Budi Urtadi)
Ketidakpastian bagi Indonesia, terutama nilai tukar Rupiah yang disebabkan kenaikan suku bunga acuan di AS masih akan berlanjut. Ria Martati
Jakarta–The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan tingat suku bunganya di level 0,25%.
The Fed mempertimbangkan kondisi ekonomi global saat ini, gejala pelambatan pertumbuhan dan kondisi pasar saham China menyebabkan kekhawatiran para investor tentang pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
“Kita telah lama memperkirakan pelambatan pertumbuhan ekonomi China karena mereka me-rebalance ekonominya, tidak ada yang kejutan di sana. Pertanyaannya saya tidak tahu apakah akan ada risiko pelambatan yang lebih tajam dari perkiraaan kebanyakan analis,” kata Janet Yellen dalam konferensi persnya usai rapat FOMC semalam.
Kebijakan jangka panjang The Fed adalah menahan suku bunga rendah hingga angka pengangguran berkurang dan inflasi AS mendekati targetnya 2%. Inflasi saat ini 1,2% di AS, sementara angka pengangguran 5,1%. (*)
Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More
Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More
Poin Penting Bank Ayandeh bangkrut pada akhir 2025, meninggalkan kerugian hampir USD5 miliar akibat kredit… Read More
Poin Penting INDS memperkuat produktivitas dan efisiensi melalui pembelian aset operasional dari entitas anak senilai… Read More
Poin Penting KB Bank salurkan kredit sindikasi USD95,92 juta untuk mendukung pengembangan PT Petro Oxo… Read More
Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,47 persen ke level 9.075,40 pada perdagangan 15 Januari 2026,… Read More